Menjajal Keganasan Arus Citarik

1 Desember 2008
Matahari baru saja beranjak dari peraduannya untuk memancarkan energi kehidupan bagi alam semesta,saya sudah bersiap menuju Kantor Kwarnas Pramuka di bilangan Gambir, Jakarta Pusat. Tempat berkumpulnya peserta Perkemahan Wartawan dan Pramuka. Rencanannya tujuan kami adalah sungai Citarik, Sukabumi.
Sungai Citarik dipilih karena relatif dekat dengan Jakarta dan merupakan tempat tujuan wisata alternatif. Diperkirakan perjalanan dari Jakarta-Citarik memakan waktu kurang lebih 4 jam. Pukul 07.30 kami mulai bergerak dari Kwarnas Pramuka menuju Kantor Menegpora di Senayan untuk menjemput beberapa peserta wartawan dan staf Menegpora. Dan tepat pukul 09.15 akhirnya rombongan berangkat menuju Citarik dengan menggunakan 2 buah bis.

Sepanjang awal perjalanan, saya tidur cukup lelap, maklumlah semalam kurang tidur karena terus memikirkan ‘keganasan arus Citarik’. Dipertigaan Ciawai saya sudah terbangun dari tidur. Seperti biasa pada waktu weekend jalan menuju arah Sukabumi macet, dan saya tertidur lagi. Dipertigaan Cibadak-Cikidang saya kembali terbangun. Suasana pemandangan sudah mulai menghijau. Jalan yang meliuk-liuk, landscape pegunungan, hamparan hutan, perkebunan teh, serta perkebunan sawit merupakan pertanda bahwa tidak lama lagi kami akan tiba di Cikidang.

Benar saja tepat pukul 12.30 kami tiba di Caldera River Resort, salah satu operator penyelenggara refting sungai Citarik. Sejatinya di Citarik ada 5 operator penyelenggara rafting, namun saat ini hanya tersisa 3 operator, yaitu Caldera, Arus Liar dan Kaki Langit.

Sesampainya di lokasi kami langsung disuguhkan makan siang dengan menu lalapan plus sambel, sayur asem, tempe dan tahu goreng serta ayam goreng..em..menunya Sunda banget batinku. Dan pastinya sangat cocok dengan lingkungan dan cuacanya. Setelah makan siang kami langsung briefing dan pembagian group. Setelah pembagian grup, kami beramah-tamah dengan semua peserta dan panitia melalui sebuah permainan ringan. Ramah-tamah kemudian dilanjutkan setelah makan malam dengan bernyanyi bersama, performa art, barbeqeu, dan pembakaran api unggu. Was-Was

Pukul 07.30 panitia mulai mengumpulkan kami untuk melakukan persiapan refting. Didahului dengan pendataan peserta yang akan ikut rafting, kemudian dilanjutkan dengan pemanasan. Dari wajah-wajah peserta refting tampak keriangan sekaligus rasa was-was, terutama yang baru pertama kali melakukan refting. Termasuk saya sebagai pemula.

Kami sudah bersiap untuk menelusuri arus Citarik yang kabarnya memiliki energi untuk menarik. Tim dibagi dalam beberapa kelompok dengan jumlah per kelompok terdiri dari 5 orang plus 1 orang instruktur. Pastinya ada perasaan takut serta was-was dihati kami, tapi instruktur meyakinkan kami bahwa standar keselamatan yang diterapkan Caldera sudah memenuhi standar. Sesuai dengan Standar Operating System (SOP) setiap peserta wajib memakai baju pelampung dan helm. Setelah itu dilanjutkan penjelasan atau instruksi singkat mengenai cara mengendalikan perahu.

Bagi mereka yang baru pertama kali rafting atau berarum jeram perasaan was-was itu pasti menyelinap. Mereka takut menghadapi kemungkinan terlempar dari perahu yang diombang ambingkan arus. Karena itu pengarung jeram dituntut selalu waspada untuk siap menerima situasi yang tak terduga.

Sebelum masuk perahu para rafter pemula kemudian briefing oleh skipper atau instruktur. Dalam briefing tersebut para rafter diharapkan tetap waspada dan mengikuti aturan. Namun, sebenarnya setelah mengarungi jeram-jeram sungai deras di atas perahu karet itu tidaklah seseram yang dibayangkan. Bahkan muncul keinginan untuk mengulang kembali nikmatnya berarung jeram.
Ada beberapa istilah atau perintah dari skipper yang harus di taati, seperti; kata Dancing, artinya goyang-goyangin perahu kalau perahunya stuck diantara batu-batu. Boom, nunduk dengan posisi tangan yang memegang ujung kayuh berada didasar perahu, ini gunanya supaya tidak terlempar dari perahu ketika akan bertabrakan keras dengan batu atau perahu lainnya serta untuk menghindari ranting-ranting pohon. Kiri / Kanan, kita harus pindah posisi ke posisi teman yang ada disamping kita, gunanya buat ngerubah arah perahu dan biasanya perintah ini dibarengin sama perintah “Dancing”..goyang terusss. Maju, mengayuh ke depan. Mundur, mengayuh mundur ke belakang. Serta Stop, untuk berhenti mendayung.

Menaklukan Citarik

Kini saatnya berpetualang menelusuri dan menaklukan liarnya arus citarik. perasaan saya sudah diliputi was-was dan cemas. Benar saja, baru beberapa meter perjalanan jeram sungai citarik sudah membuat andrenalin naik tajam. Ditambah teriakan dari peserta lainnya semakin membuat andrenalin meningkat tajam. Namun, beberapa meter kemudian riam semakin tenang, gemercik air juga terdengar tenang membaut hati tenang dan damai.

Sepanjang 9 kilometer pengarungan sungai Citarik, kami menemukan sejumlah jeram yang nama-namanya sudah cukup dikenal. Jeram-jeram itu diberi nama berdasarkan kejadian yang pernah dialami di tempat itu. Jeram pertama adalah “Jeram TVRI”. Kenapa dinamakan demikian, karena di jeram inilah seorang kameramen TVRI yang sedang berarung jeram sempat jatuh pingsan.

Tidak jauh dari “Jeram TVRI”, ada “Jeram Golden Gate”. Di sebelah kiri dan kanan jeram ini terdapat dua buah batu besar menyerupai gerbang atau “gate”. Untuk melintas jeram yang berada di tengahnya cukup sulit lantaran ruang yang tersedia sangat sempit. Kabarnya, tidak sedikit perahu yang hampir terbalik di sini. Di kalangan juru mudi, yang dengan lancar membawa tamu melintas jeram ini diberi “poin emas”.

Jeram berikutnya adalah “Jeram Zig-zag”. Kondisi jeram di sini mengharuskan jurumudi harus mengendalikan perahunya dengan cara “zig-zag”. Biasanya, saat melewati jeram ini jurumudi akan membuat atraksi perahu “dipentokkan” ke batu.

Ada pula “Jeram Jumping Jack Flash”. Di masa awal pengarungan Sungai Citarik, perahu yang melewati jeram ini, juru mudinya selalu terlempar atau “jumping” ke arah depan melewati perahu. Dari kejadian itu, setiap jurumudi pasti akan masuk ke perahu atau berpegangan kencang kalau melewati jeram ini. Dan tidak sedikit peserta maupun instruktur yang terlempar ke dalam sungi. Setelah itu, baru “Jeram Walk Away”, tempat dimana perahu kami sempat stuck di batu.

Tak kalah seru, jeram yang akan kami lewati setelah itu adalah “Jeram Big Z” dan “Jeram Panjang”. Jeram Big Z, karena bentuk alur sungainya seperti huruf “Z” berukuran besar. Karena bentuknya seperti huruf Z itulah, pada saat menikung di jeram ini, perahu selalu terbentur dinding-dinding batuan yang berada di tepi sungai.

Tak Terexpose

Sebenarnya, selain keliaran dan keganasan arus Citarik, ada pesona yang tidak terexpose oleh indra kita, yaitu suasana sekeliling pinggir sungai. Melihat keindahan tebing-tebing yang ditumbuhi pepohonan bambu dan pohon-pohon besar. Di sungai ini kita bisa melihat biawak berenang dan bahkan ada yang sedang berjemur di atas batu yang berlumut. Tidak jarang kita juga bisa menyaksikan peduduk sekitar mencuci pakaian.

Kepakan sayap dan kicauan burung-burung semakin manambah exsotik sungai Citarik. Belum lagi suara-suara hewan liar lainnya yang dipadu dengan suara gemuruh riak air, semakin menambah harmoni alam Citarik. Sayang, para rafter jarang memperhatikannya karena asyik dengan sensasi keganasan Citarik.


Masjid Kudus, Simbol Toleransi Sejati

28 November 2008
Memasuki makam yang satu ini, peziarah akan melihat sebuah bangunan megah mirip candi yang tersusun dari bata merah. Bangunan bergaya Hindu itu bukanlah candi, melainkan masjid. Bagian atasnya seperti terpenggal lalu diberi atap bersusun dengan kubah masjid bergaya India.
Di sekitarnya ada peninggalan lain yang merupakan ciri khas kerajaan besar di Jawa (Majapahit) pada masa lalu, yakni dua gapura kembar. Gerbang masuk tanpa pintu ini terletak di ujung timur bagian luar kompleks masjid. Ada juga pagar tembok yang mengelilingi kompleks dan sebuah gapura lagi untuk memasuki makam.

Masjid Sunan Kudus–orang lebih mengenalnya dengan dengan sebutan Menara Kudus–dibangun pada sekitar pertengahan abad ke-16, sekitar 956 Hijriah atau 1549 Masehi dengan nama Masjid Al-Aqsa. Tempat itu dinamakan sama dengan salah satu masjid di Palestina karena sang pedndirinya yang tak lain adalah Ja’far Sodik atau Sunan Kudus pernah membwa kenangan batu bata merah dari Baitul Maqdis.

Kompleks ini merupakan bukti nyata kehadiran utusan siar Islam di Jawa Tengah bagian utara yang masuk melalui pendekatan budaya. Buktinya, dalam masjid itu dibangun delapan pancuran untuk wudu dengan arca di atasnya. Sebuah sumber menyebutkan, cara itu dilakukan untuk mengadaptasi keyakinan Buddha akan “delapan jalan kebenaran” atau asta sanghika marga.

Sebagaia bukti toleransi lainnya, Sunan Kudus melarang para pengikutnya menyembelih sapi. Dan hingga kini warga Kudus masih menghargai nilai-nilai yang ditanamkan sang panutan. Sebagai gantinya, mereka mengkonsumsi daging kerbau. Hal itu dikarenakan sapi merupakan hewan yang dianggap suci bagi agama Hindu.

Menurut sebuah laman, yang ditulis Bambang Setia Budi, bangunan menara Kudus mempunyai ketinggian 18 meter, berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar. Seluruh bangunan menggambarkan budaya khas Jawa-Hindu.

Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.

Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Ketika Islam masuk ke Nusantara, menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, memang dengan bijak para penyebar Islam menghargai tradisi leluhur yang dijumpai sambil memperkenalkan ajaran Al Quran. Sehingga, antara agama dan budaya setempat saling menopang dan saling mengisi. “Agama tak berkembang tanpa wadah budaya dan budaya akan hilang arah dan ruh tanpa bimbingan agama,” kata Komaruddin.

Keunikan bentuk masjid ini memang sulit dilupakan. Pasalnya, bentuk ini tak ada yang menyamai di seluruh dunia. Bentuk arsitekturalnya khas dan mempesona. (deni, berbagai sumber)


Dayak Bukan Melayu

24 November 2008
Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.
Asal kata Dayak sendiri hingga sekarang orang masih berbeda pendapat. Ada yang menyebutnya berasal dari kata ‘Daya’, yang dalam bahasa Kenyah berarti hulu sungai atau pedalaman. Namun ada juga –terutama orang luar Dayak pada abad lalu—yang mengartikannya sebagai head hunters atau pengayau. Hal itu dimungkinkan karena tradisi masa lalu mereka yang suka berperang antarsuku, dengan memenggal kepala musuhnya sebagai perlambang penaklukan sekaligus juga ‘teman’ (bagi mereka, kepala musuh yang sudah dipenggal itu bisa juga diartikan sebagai teman, karena selain bisa pelindung mereka dari roh-roh jahat, juga bisa membawa berkah atau rejeki).

Dalam sebuah penelitian, disebutkan, pada mulanya suku Dayak berasal dari Provinsi Yunan, sebuah daerah di selatan China (Mainland). Mereka kemudian bermukim di Apo Kayan, daerah Long Nawan sekarang, dekat perbatasan dengan Malaysia. Kapan datangnya, tidak seorang pun tahu –karena kebudayaan Dayak tidak meninggalkan catatan-cataan tertulis. Setelah itu mereka menyebar ke seluruh pelosok Kalimantan, terutama di sepanjang aliran sungainya.

Sedangkan menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

Menurut ahli sejarah, dulunya benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.

Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.

Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).

Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum).

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.

Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)


Koteka Antara Tradisi dan Keterbelakangan

17 November 2008
KOTEKA adalah penutup bagian khusus alat kelamin pria yang dipakai beberapa suku bangsa di Papua. Bagi pria berwibawa dan terkenal dalam masyarakat, koteka yang digunakan harus berukuran besar dan panjang. Batang kotekanya pun diukir berwarna-warni. Seorang pria berwibawa dan gagah biasanya mengenakan koteka sambil memegang panah dan busur dengan tatapan wajah yang tajam ke alam bebas.
Koteka terbuat dari buah labu. Labu tua dipetik, dikeluarkan isi dan bijinya kemudian dijemur. Setelah kering, labu tersebut disumbat pada batang penis dengan posisi berdiri tegak menjulur arah pusat.

Kata koteka berasal dari salah satu suku di Paniai, artinya pakaian. Di Wamena koteka disebut holim. Ada berbagai jenis ukuran koteka, tergantung besar kecilnya kondisi fisik pemakai. Tetapi, besarnya koteka juga sering hanya aksesoris bagi si pemakai.

Tubuh yang kekar bagi seorang pria berkoteka adalah idaman seorang wanita suku Pegunungan Tengah seperti suku Dani. Agar penampilan seorang pria lebih perkasa dan berwibawa, seluruh bagian kulit luar termasuk rambut dilumuri minyak babi agar kelihatan hitam mengkilat dan licin bila terpanggang matahari. Lemak babi itu dioleskan di wajah, pinggang, kaki, dan tangan. Biasanya dipakai pada saat pergelaran pesta adat seperti bakar batu.

Tidak ada literatur yang menyebutkan, sejak kapan suku- suku asli Papua mengenakan koteka. Sejak petualangan bangsa Eropa datang ke daerah itu, kaum pria dari suku–suku di Pegunungan Tengah (Jayawijaya, Puncak Jaya, Paniai, Nabire, Tolikara, Yahokimo, dan Pegunungan Bintang) sudah mengenakan koteka.

Keterampilan membuat koteka diperoleh secara turun temurun bagi kaum pria. Seorang laki-laki ketika menginjak usia 5-13 tahun harus sudah mengenakan koteka sebagai busana pria. Pria yang menutup bagian penis dengan kulit labu ini sering disebut “manusia koteka”, atau sering pula disebut masyarakat koteka.

Bagi orang luar, Koteka dinilai sebagai salah satu bagian dari kemiskinan dan keterbelakangan. Koteka bukan pakaian. Pria yang mengenakan koteka dilihat sebagai pria telanjang dan “tidak beradab”. Tetapi, dari sisi orang Papua, koteka adalah pakaian resmi orang Papua.

Anti Koteka

Secara bertahap, sosialisasi mengenai gerakan pemberantasan koteka pun mulai digalakkan. Gubernur Frans Kaisepo (1964-1973) mulai menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai pakaian yang sehat, sopan, dan bermartabat. Kemudian dilanjutkan dengan kampanye antikoteka oleh Gubernur Soetran. Sosialiasi dilanjutkan Gubernur Acub Zainal, Gubernur Busiri Suryowironoto, dan Gubernur Isac Hindom.

Pada masa pemerintahan Gubernur Barnabas Suebu (1988-1993) dan Yacob Pattipi (1993-1998) mulai dilakukan kampanye antikoteka di Pegunungan Tengah. Puluhan ton pakaian dijatuhkan di beberapa kecamatan dan kampung-kampung di Pegunungan Tengah yang merupakan basis koteka.

Tetapi, kampanye antikoteka dengan cara itu tidak banyak membantu masyarakat koteka. Satu dua potong pakaian yang dibagi kepada masyarakat tidak bertahan lama. Pakaian itu dikenakan terus siang-malam, dan tidak dicuci sampai hancur di badan.

Ketika pakaian hancur, tidak ada pakaian baru sebagai pengganti. Kondisi geografis yang sangat sulit dijangkau, membuat mereka seakan-akan tetap terisolasi di tengah hutan. Tidak mengenal peradaban modern dan tidak tahu caranya mendapatkan pakaian. Mereka juga tidak tahu bagaimana cara merawat dan menjaga pakaian agar tetap awet di badan.

Kampanye antikoteka tidak disertai pembangunan infrastruktur yang menghubungkan masyarakat kota dengan masyarakat terisolasi sehingga tidak banyak membawa perubahan. Ada kesenjangan cukup besar antara masyarakat kota yang sebagian besar dihuni warga pendatang dengan masyarakat pedalaman yang dikuasai penduduk asli.

Satu-satunya sarana transportasi untuk menjangkau masyarakat pedalaman adalah pesawat. Itu pun kalau ada lapangan terbang di daerah itu. Transportasi udara ini sebagian besar dimiliki gereja, dan belakangan ini mulai diminati pihak swasta seperti Trigana, Mimika Air, Merpati, dan Manunggal Air Service.

Pemerintah memaksa masyarakat meninggalkan koteka dengan cara membagi-bagikan pakaian. Cara ini memang tidak tepat sasaran. Tetapi, paling tidak manusia koteka mulai paham bagaimana harus mengenakan pakaian yang layak dan memenuhi syarat kesehatan. (deni:berbagai sumber)


Tiwah, Mengantar Arwah Keperistirahatan Terakhir

17 November 2008

Provinsi Kalimantan Tengah. Di provinsi ini, masyarakat Dayak Kaharingan berdiam dan bertahan dengan segala adat istiadat dan kepercayaannya. Termasuk pula menjaga kepercayaan yang dianutnya sejak dulu Agama Kaharingan. Salah satu upacara ritual yang masih dijalankan oleh masyarakat Dayak Kaharingan, adalah upacara Tiwah. Inti upacara ini adalah memindahkan tulang jenazah kedalam sandung, yaitu rumah kecil yang senantiasa ada disetiap rumah masyarakat setempat.

Upacara ini mencerminkan sikap hormat mereka, kepada anggota keluarga yang telah mendahului mereka. Rangkap I Nau adalah Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan, yang juga Ketua Panitia Tiwah Massal di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Di dalam upacara ini, Rangkap I Nau meniwahkan ayahnya yang meninggal tahun 1999.

Dalam keyakinan Agama Kaharingan, Tuhan Yang Maha Kuasa adalah awal dari segala yang ada. Termasuk hidup dan kehidupan. Di dalam kitab suci mereka disebutkan, manusia pada akhirnya akan kembali kepada sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.

Proses menuju kesana, seperti ayah Rangkap I Nau adalah melalui upacara Tiwah. Tiwah artinya pensucian, pembebasan, pelepasan atau penyempurnaan. Pada hakekatnya, dalam hidupnya, manusia berbuat dosa, karena itu ada sial. Siapapun yang meninggal, maka keluarganya akan tertimpa sial. Sial ini harus dihapuskan. Maka dilaksanakanlah upacara ritual Tiwah. Dengan demikian, tidak ada lagi sial pada mereka yang hidup.

Dalam proses ini, bagian inti dari upacara ritual Tiwah, adalah pengangkatan tulang jenazah ayah Rangkap I Nau. Dengan upacara ritual seperti pembacaan mantra-matra dari kitab suci oleh ulama, makam ayah Rangkap I Nau dibongkar. Setelah itu tulang belulang ayah Rangkap I Nau pun diangkat dan dibersihkan. Selanjutnya tulang belulang disimpan untuk sementara didalam kotak, selama dua sampai tiga hari. Selain tulang belulang ayah Rangkap I Nau yang baru berumur 4 tahun, ada pula kerangka yang telah berusia 25 tahun. Kerangka ini belum di Tiwah, karena ketiadaan biaya. Biasanya tulang yang sudah berumur diatas 4 tahun sudah bersih. Namun ada pula pengecualian.

Dalam upacara Tiwah, hewan seperti kerbau, sapi dan babi, menjadi syarat untuk dikorbankan. Untuk itu, dibuatlah patung-patung kayu sebagai tempat pengikat hewan-hewan tersebut, sebelum ditombak sebagai korban. Patung-patung tersebut dibuat dari kayu yang kuat yaitu kayu ulin. Hanya pematung hebat yang pahatan dan ukirannya bagus yang terpilih untuk membuat patung-patung tersebut.

Setelah selesai, patung-patung tersebut ditaman disamping sadung. Dalamnya lubang bisa mencapai 1 hingga 1,5 meter, mengingat besarnya hewan korban yang diikatkan ke patung. Sebelum menanam patung-patung tersebut ke dalam tanah, ditaruhlah berbagai macam sesajen oleh ulama. Diantaranya beras, telur, sirih, pinang dan rokok. Maksudnya, untuk menunjukkan bahwa tanah itu adalah tempat manusia hidup. Selain itu, juga untuk menunjukkan bahwa patung-patung tersebut didirikan dengan tulus ikhlas.

Dalam upacara apapun, masyarakat Dayak Kaharingan senantiasa menggunakan beras yang mereka taburkan. Beras diyakini sebagai alat komunikasi antara manusia dengan Tuhan dan para penciptanya di alam sana. Pada hari yang telah ditentukan, tibalah saatnya bagi hewan-hewan korban tersebut untuk di tombak. Mereka yang menombak pun ada aturannya, yaitu hanya anggota keluarga yang melakukan Tiwah. Bagi ayah Rangkap I Nau yang melakukan penombakan adalah saudara sepupunya. Rangkap sendiri tidak boleh ikut menombak. Namun dia harus membuktikan bahwa dia telah melakukan tanggung jawab moralnya sebagai anak, yaitu melaksanakan Tiwah bagi ayahnya.

Selama upacara Tiwah berlangsung, ulama atau dalam bahasa Agama Kaharingan disebut Basir, memainkan peran central. Puncak acara misalnya, adalah pembacaan mantra-mantra oleh Basir. Bukan sembarang Basir, melainkan Basir Utama yaitu yang paling tua, paling pintar dan paling dipercaya. Seraya duduk diatas sebuah gong, sang Basir membacakan nama-nama seluruh almarhum yang akan di Tiwah massal, jumlahnya 211. Karenanya pembacaan mantra tersebut berlangsung semalam suntuk.

Selain itu, sang Basir juga menceritakan proses awal kehidupan manusia. Mengakhiri rangkaian upacara ritual yang telah berlangsung lebih dari satu bulan, seluruh keluarga berkumpul di desa tempat asal almarhum. Tiga jam perjalanan mobil dari Palangkaraya. Disana mereka akan memasukan tulang arlmarhum kedalam sandung.

Menurut Rangkap, tulang belulang ayahnya harus diperlakukan dengan rasa hormat dan cinta kasih, serta tidak boleh sembarangan. Dengan masukan tulang belulang tersebut, roh ayahnya dipercaya telah diantar ke surga dan menyatu dengan Tuhan. Proses memasukan tulang kedalam sandung pun ditingkahi dengan berbagai ritual yang syarat dengan makna. Luapan emosi tak tertahankan.

Dengan masuknya tulang kedalam sandung, maka almarhum ayah Rangkap I Nau telah memperoleh tempat peristirahatannya yang terakhir. Usai sudah upacara Tiwah. Seluruh keluarga merasa lega, bangga dan bahagia. Segala perasaan bercampur aduk menjadi satu. Perasaan ini tidak bisa diukur dengan uang. Namun hanya bisa diukur dengan kebesaran nama Tuhan. Akhirnya Rangkap berharap, suatu saat kelak anak-anaknya pun bisa melakukan hal yang sama, yaitu meniwahkan dia. (deni:sumber Horizon Indosiar)


Gedung Arsip Nasional,Rumah Peristirahatan Golongan Borjuis Belanda

17 November 2008
Bangunan Arsip Nasional ini dibangun pada tahun 1760 oleh Reiner de Klerk (1710-1750) saat ia masih menjabat anggota dewan Hindia Belanda, selain sebagai arsitek gedung ini Reiner de Klerk juga tercatat sebagai gubernur Jendral VOC pada tahun 1777. Saat itu kawasan ini masih hijau dan lebih sehat, dibandingkan pusat kota Batavia yang waktu itu sedang terkena wabah malaria. Gedung tersebut juga sebagai tempat peristirahatan yang jauh di luar kota –kota kala itu berpusat di ‘Benteng’ Pasar Ikan.

Seperti halnya bangunan Arsip Nasional bangunan-bangunan lain di kawasan ini juga mempunyai area yang luas, dengan halaman depan yang luas, bangunan yang ada di kawasan tersebut juga besar dan luas dilengkapi dengan courtyard atau kebun di halaman belakang. Luas tanah Arsip Nasional sekarang ini mempunyai lebar 57 M dan panjang 164 M, tetapi dulu tanah yang dimilikinya lebih luas batasnya sampai ke sungai Krukut.

Bangunan Arsip Nasional berbentuk U dengan bangunan tambahan di bagian belakangnya. Bangunan utama berlantai 2, dibangun dengan bata merah dengan atap yang tinggi. Denah bangunannya mencerminkan denah rumah yang besar dan klasik dengan aksis utama barat-timur dan aksis kedua utara-selatan. Lantai dasarnya luas. Pintu utamanya tinggi dihiasi lubang ventilasi yang indah di atasnya. Di lantai inilah Gubernur Jendral biasa menerima tamu-tamunya. Di lantai ini terdapat satu tangga kecil yang menuju ke lantai pertama, yaitu tempat yang lebih privat.

Bangunan di samping bangunan utama digunakan sebagai kantor administrasi yang mengelola bisnis pribadi gubernur jendral. Sementara ada bangunan tambahan yang lebih tinggi yang dulu digunakan sebagai rumah budak dan sebagai tempat penyimpanan barang.

Dalam catatan sejarah bangunan Arsip Nasional terlah berpindah tangan berkali-kali, dulu bangunan ini pernah terbengkalai kemudian diperbaiki, oleh pemerintah Belanda digunakan sebagai kantor departemen pertambangan.

Pada tahun 1925 bangunan tersebut kembali direstorasi dan digunakan sebagai kantor Landsarchief Building. Ketika Indonesia merdeka bangunan ini tetap digunakan sebagai Kantor Arsip Nasional. Bangunan Arsip Nasional yang berbentuk U dengan ketinggian dua lantai dihubungkan dengan bangunan tambahan di belakangnya, dan balkon dengan ketinggian dua lantai ditutup dengan dinding dan jendela. Sejak saat itu bangunan tersebut dinamakan Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (the National Archive Building of Republic Indonesia). Pertengahan tahun 1980 semua arsip dipindahkan ke bangunan yang lebih baru di selatan kota Jakarta

Kawasan Peristirahatan

Kembali ke Gedung Arsip Nasional (kediaman Reinier de Klerk), pada abad ke-18 di sekitarnya banyak terdapat rumah peristirahatan (landhuis) dengan pekarangan luas, tempat para kelompok elite bersama keluarga menikmati weekend di hari-hari libur. Tiga abad lalu, kawasan yang kini sangat ramai itu masih merupakan permukiman yang tenang dengan hawanya yang sejuk. Banyaknya rumah peristihatan indah ini menyebabkan Batavia mendapat julukan Queen of the East (Ratu dari Timur) atau Koningin van het Oosten dalam Belanda.

Di antara gedung yang dulu banyak terdapat di Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk, tinggal gedung Arsip Nasional yang masih tersisa yang dibangun di kawasan Molenvliet. Sebagian tergusur menjadi mal, pertokoan, dan perkantoran. Sebagian lagi dibongkar ketika Gubernur Ali Sadikin melebarkan kedua jalan tersebut. Baru pada abad ke-19, kaum elite membangun rumah-rumah mewah di daerah selatan atau Weltevreden (Lapangan Banteng, Medan Merdeka, Gunung Sahari, dan Senen).

Antara 1777 dan 1780, rumah Reinier de Klerk digunakan sebagai kediaman resmi pejabat tinggi kolonial. Setelah de Klerk meninggal (1780), rumah ini dibeli Johannes Sieberg. Ia kemudian menjadi gubernur jenderal (1801-1805) dan tinggal di gedung ini selama masa pemerintahan Prancis dan Inggris.

Kemudian gedung ini kembali berpindah tangan kepada Jahoede Leip Jewgiel Igel, seorang Yahudi yang berasal dari Polandia. Yahudi ini juga membeli rumah mewah dan besar di Pondok Gede, Jakarta Timur. Rumah ini dibongkar pada 1992 dan di atas lahannya kemudian didirikan mal/pertokoan. Seperti juga de Klerk, Yahudi ini mempunyai empat anak dari hasil ‘kumpul kebo’ dengan budaknya. Waktu itu, banyak petinggi VOC yang memiliki gundik atau selir para budak tanpa dikawini. Sejauh ini hanya JP Coen yang tampaknya bersih dari praktik-praktik demikian.

Rumah Para Budak

Di rumah-rumah besar atau landhuis seperti di Gedung Arsip Nasional, kala itu banyak tinggal para pekerja berstatus budak belian. Kita perlu memberikan perhatian terhadap nasib para budak ini, karena selama hampir dua abad mereka merupakan penduduk Batavia paling besar, tapi juga paling menderita.

Mereka tidak memiliki hak sama sekali dan diperlakukan seperti binatang, kerja tanpa dibayar. Banyak di antaranya yang dicambuk kemudian dipenjarakan hanya karena soal-soal sepele akibat pengaduan majikannya. Boleh dikata hampir tidak ada hukum yang melindungi mereka. Yang menyedihkan, para budak yang sudah tua dan sakit-sakitan dibuang begitu saja agar sang majikan bebas memberi makan dan tidak menanggung risiko biaya bila budaknya mati.

Waktu itu, VOC banyak mendatangkan budak, baik dari berbagai tempat di Nusantara, maupun mengimpornya dari India dan Srilangka, karena kekurangan tenaga kerja. Pada masa Gubernur Jenderal Van den Parra (1761-1775) tiap tahun tidak kurang 4.000 orang budak yang diimpor ke Batavia. Pada 1788 di Jakarta terdapat 30.520 budak belian, terbanyak dari Bali.

Jakarta dari abad ke-17 hingga abad ke-19 (perbudakan baru dihapuskan pada 1860) menjadi pusat perdagangan budak. Di sini para budak diperjualbelikan dalam suatu lelang, termasuk yang pernah terjadi di Gedung Arsip Nasional. Tidak sedikit di antara para budak itu yang oleh majikannya dijadikan pelacur, dan si majikan menikmati hidup mewah dari hasil ‘uang lendir’.

Karena di antara budak itu banyak yang dikawini oleh Belanda dan Cina yang datang ke Indonesia tanpa istri, harga budak wanita dua sampai tiga kali lipat harga budak pria. Waktu itu, memelihara budak merupakan simbol status sosial seseorang. Semakin banyak memiliki budak semakin tinggi statusnya.

Para budak termasuk beruntung bila ia dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, atau menjadi pengiring majikan –memayungi atau membawa tempat sirih dan tempat perhiasan– yang mempertontonkan kekayaannya. Di antara para budak belian ini ada yang khusus dipekerjakan sebagai grup orkes. Mereka menghibur si majikan saat santap malam bersama keluarga, atau menjamu tamunya. (deni:dari berbagai sumber)


Tradisi Grebeg Mulud yang Ratusan Tahun Tetap Terjaga

12 November 2008
Ngerayah Berkah Gunungan Sekaten Masyarakat Jogja punya tradisi Sekaten yang dilaksanakan setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi itu tak bisa dilepaskan dari Kerajaan Demak.
Sejarah menyebutkan, Raden Patah pada 1478 M diangkat sebagai raja Demak bergelar Sultan Syah Alam Akbar Penambahan Jimbun Anom. Di bawah kepemimpinan Raden Patah, Kerajaan Demak semakin eksis dan berkembang. Termasuk dalam melakukan syiar Islam ke berbagai penjuru. Salah satu syiar yang dilakukan pada saat itu adalah menggelar perayaan setiap Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perayaan itu selalu dilaksanakan di halaman masjid sehingga menjadi daya tarik masyarakat sekitar. Sunan Kalijaga lantas memanfaatkannya sebagai sarana dakwah. Melalui perayaan tersebut, masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat (dalam bahasa Arab disebut syahadatain).

Dalam lidah orang Jawa, kata-kata syahadatain berubah menjadi Sekaten. Sejak itulah, perayaan yang digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW biasa disebut Sekaten. Dalam perjalanannya, Sekaten menjadi tradisi yang terus dilestarikan setelah Kerajaan Islam pindah ke Pajang. Lalu, dari Pajang ke Mataram, hingga pindah ke Kartosuro dan Jogjakarta. Sekaten menjadi tradisi yang terbukti tak pudar meski berganti zaman.

Upacara Sekaten dimulai tanggal 5 (lima) bulan Jawa ketiga atau Mulud. Rangkaian upacara diawali miyos gongso yang telah dilaksanakan tanggal 13 Maret lalu. Miyos gongso merupakan prosesi keluarnya dua gamelan pusaka milik Keraton Jogja, yakni Kiai Nagawilaga dan Kiai Gunturmadu. Dua gamelan yang telah berusia ratusan tahun itu diusung dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Besar Kauman. Jarak Keraton Jogja dengan Masjid Besar Kauman sekitar 400 meter.

Setiba di halaman Masjid Kauman, gamelan Kiai Nagawilaga ditempatkan di pagongan utara, sedangkan Kiai Gunturmadu di pagongan selatan. Dua gamelan itu dibunyikan secara bergantian. Gending-gending yang dilantunkan adalah Yaume, Salatun, Ngajatun, Supiyatun, Dendang Subinah, Rambu-Rambu, Rangkung, Lung Gadhungpel, Atur-Atur, Andong-Andong, Rendeng-Rendeng, Gliyung, Burung Putih, Orang Aring, Bayemtur, dan Srundeng Gosong.

Masyarakat Jogja sampai saat ini masih ada yang meyakini bahwa mendengarkan gamelan itu akan mendapatkan berkah. Saat gamelan berada di pagongan utara dan selatan, di halaman Masjid Kauman dipadati masyarakat yang mengais rezeki. Mereka menjual apa saja. Mulai nasi kuning, soto, berbagai macam minuman, wedang ronde, telur merah, hingga perlengkapan nginang (daun sirih, gambir, dan injet).

Itulah sebabnya, halaman masjid menjadi tempat yang paling banyak didatangi masyarakat. Terutama dari daerah pedesaan di seantero Jogja dan sekitarnya.

Menjelang berakhirnya tanggal 11 Mulud (tadi malam, Red), dilaksanakan kondur gongso. Kondur gongso merupakan upacara kembalinya gamelan Kiai Nagawilaga dan Kiai Gunturmadu ke keraton.

Seperti ketika miyos gongso, ribuan orang saat itu rela berdesak-desakan menyaksikan arak-arakan diusungnya dua gamelan pusaka Keraton Jogja itu. Seperti yang terjadi tadi malam, jalan-jalan yang menjadi rute arak-arakan dipadati masyarakat.

Setelah upacara selesai sekitar pukul 23.30 (tadi malam), masyarakat tidak meninggalkan lokasi. Mereka yang berasal dari luar Jogja memilih tidur di jalan-jalan yang berdekatan dengan Masjid Kauman dan Keraton Jogja.

Untuk apa? Mereka ingin menyaksikan garebeg yang dilaksanakan pagi ini sekitar pukul 08.00. Garebeg merupakan puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilangsungkan tanggal 12 bulan Jawa Mulud.

Upacara diawali parade prajurit keraton. Barisan paling depan adalah prajurit Wirobrojo. Prajurit ini populer dengan nama prajurit Lombok Abang. Di belakangnya prajurit Dhaeng, Jogokariyo, Patangpuluh, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, dan Mantrijero. Parade prajurit berangkat dari Kemandungan Lor Kraton.

Prajurit yang berjumlah ratusan orang dengan seragam berbeda itu lantas melewati Siti Hinggil dan Pagelaran Keraton. Disusul arak-arakan gunungan yang digotong para abdi dalem. Enam gunungan pada Garebeg Mulud yang keluar dari keraton dikawal Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Arak-arakan gunungan itu disambut tembakan salvo saat keluar dari Pagelaran Keraton menuju Alun-Alun Utara.

Gunungan lalu diarak menuju halaman Masjid Kauman. Setelah didoakan oleh penghulu keraton, gunungan berisi uba rampe itu langsung dirayah masyarakat. “Gunungan laki-laki yang satu dibawa ke halaman Masjid Kauman, sedangkan yang satunya dibawa ke Puro Pakualaman,” terang Bekel Wirokaryo.

Mereka yang mendapatkan uba rampe gunungan tampak senang. Mereka meyakini, uba rampe seperti hasil bumi yang berada di tangannya memberi banyak manfaat. Antara lain, diyakini dapat menyuburkan tanaman dan penolak bala.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.405 pengikut lainnya