Gedung Arsip Nasional,Rumah Peristirahatan Golongan Borjuis Belanda

17 November 2008
Bangunan Arsip Nasional ini dibangun pada tahun 1760 oleh Reiner de Klerk (1710-1750) saat ia masih menjabat anggota dewan Hindia Belanda, selain sebagai arsitek gedung ini Reiner de Klerk juga tercatat sebagai gubernur Jendral VOC pada tahun 1777. Saat itu kawasan ini masih hijau dan lebih sehat, dibandingkan pusat kota Batavia yang waktu itu sedang terkena wabah malaria. Gedung tersebut juga sebagai tempat peristirahatan yang jauh di luar kota –kota kala itu berpusat di ‘Benteng’ Pasar Ikan.

Seperti halnya bangunan Arsip Nasional bangunan-bangunan lain di kawasan ini juga mempunyai area yang luas, dengan halaman depan yang luas, bangunan yang ada di kawasan tersebut juga besar dan luas dilengkapi dengan courtyard atau kebun di halaman belakang. Luas tanah Arsip Nasional sekarang ini mempunyai lebar 57 M dan panjang 164 M, tetapi dulu tanah yang dimilikinya lebih luas batasnya sampai ke sungai Krukut.

Bangunan Arsip Nasional berbentuk U dengan bangunan tambahan di bagian belakangnya. Bangunan utama berlantai 2, dibangun dengan bata merah dengan atap yang tinggi. Denah bangunannya mencerminkan denah rumah yang besar dan klasik dengan aksis utama barat-timur dan aksis kedua utara-selatan. Lantai dasarnya luas. Pintu utamanya tinggi dihiasi lubang ventilasi yang indah di atasnya. Di lantai inilah Gubernur Jendral biasa menerima tamu-tamunya. Di lantai ini terdapat satu tangga kecil yang menuju ke lantai pertama, yaitu tempat yang lebih privat.

Bangunan di samping bangunan utama digunakan sebagai kantor administrasi yang mengelola bisnis pribadi gubernur jendral. Sementara ada bangunan tambahan yang lebih tinggi yang dulu digunakan sebagai rumah budak dan sebagai tempat penyimpanan barang.

Dalam catatan sejarah bangunan Arsip Nasional terlah berpindah tangan berkali-kali, dulu bangunan ini pernah terbengkalai kemudian diperbaiki, oleh pemerintah Belanda digunakan sebagai kantor departemen pertambangan.

Pada tahun 1925 bangunan tersebut kembali direstorasi dan digunakan sebagai kantor Landsarchief Building. Ketika Indonesia merdeka bangunan ini tetap digunakan sebagai Kantor Arsip Nasional. Bangunan Arsip Nasional yang berbentuk U dengan ketinggian dua lantai dihubungkan dengan bangunan tambahan di belakangnya, dan balkon dengan ketinggian dua lantai ditutup dengan dinding dan jendela. Sejak saat itu bangunan tersebut dinamakan Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (the National Archive Building of Republic Indonesia). Pertengahan tahun 1980 semua arsip dipindahkan ke bangunan yang lebih baru di selatan kota Jakarta

Kawasan Peristirahatan

Kembali ke Gedung Arsip Nasional (kediaman Reinier de Klerk), pada abad ke-18 di sekitarnya banyak terdapat rumah peristirahatan (landhuis) dengan pekarangan luas, tempat para kelompok elite bersama keluarga menikmati weekend di hari-hari libur. Tiga abad lalu, kawasan yang kini sangat ramai itu masih merupakan permukiman yang tenang dengan hawanya yang sejuk. Banyaknya rumah peristihatan indah ini menyebabkan Batavia mendapat julukan Queen of the East (Ratu dari Timur) atau Koningin van het Oosten dalam Belanda.

Di antara gedung yang dulu banyak terdapat di Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk, tinggal gedung Arsip Nasional yang masih tersisa yang dibangun di kawasan Molenvliet. Sebagian tergusur menjadi mal, pertokoan, dan perkantoran. Sebagian lagi dibongkar ketika Gubernur Ali Sadikin melebarkan kedua jalan tersebut. Baru pada abad ke-19, kaum elite membangun rumah-rumah mewah di daerah selatan atau Weltevreden (Lapangan Banteng, Medan Merdeka, Gunung Sahari, dan Senen).

Antara 1777 dan 1780, rumah Reinier de Klerk digunakan sebagai kediaman resmi pejabat tinggi kolonial. Setelah de Klerk meninggal (1780), rumah ini dibeli Johannes Sieberg. Ia kemudian menjadi gubernur jenderal (1801-1805) dan tinggal di gedung ini selama masa pemerintahan Prancis dan Inggris.

Kemudian gedung ini kembali berpindah tangan kepada Jahoede Leip Jewgiel Igel, seorang Yahudi yang berasal dari Polandia. Yahudi ini juga membeli rumah mewah dan besar di Pondok Gede, Jakarta Timur. Rumah ini dibongkar pada 1992 dan di atas lahannya kemudian didirikan mal/pertokoan. Seperti juga de Klerk, Yahudi ini mempunyai empat anak dari hasil ‘kumpul kebo’ dengan budaknya. Waktu itu, banyak petinggi VOC yang memiliki gundik atau selir para budak tanpa dikawini. Sejauh ini hanya JP Coen yang tampaknya bersih dari praktik-praktik demikian.

Rumah Para Budak

Di rumah-rumah besar atau landhuis seperti di Gedung Arsip Nasional, kala itu banyak tinggal para pekerja berstatus budak belian. Kita perlu memberikan perhatian terhadap nasib para budak ini, karena selama hampir dua abad mereka merupakan penduduk Batavia paling besar, tapi juga paling menderita.

Mereka tidak memiliki hak sama sekali dan diperlakukan seperti binatang, kerja tanpa dibayar. Banyak di antaranya yang dicambuk kemudian dipenjarakan hanya karena soal-soal sepele akibat pengaduan majikannya. Boleh dikata hampir tidak ada hukum yang melindungi mereka. Yang menyedihkan, para budak yang sudah tua dan sakit-sakitan dibuang begitu saja agar sang majikan bebas memberi makan dan tidak menanggung risiko biaya bila budaknya mati.

Waktu itu, VOC banyak mendatangkan budak, baik dari berbagai tempat di Nusantara, maupun mengimpornya dari India dan Srilangka, karena kekurangan tenaga kerja. Pada masa Gubernur Jenderal Van den Parra (1761-1775) tiap tahun tidak kurang 4.000 orang budak yang diimpor ke Batavia. Pada 1788 di Jakarta terdapat 30.520 budak belian, terbanyak dari Bali.

Jakarta dari abad ke-17 hingga abad ke-19 (perbudakan baru dihapuskan pada 1860) menjadi pusat perdagangan budak. Di sini para budak diperjualbelikan dalam suatu lelang, termasuk yang pernah terjadi di Gedung Arsip Nasional. Tidak sedikit di antara para budak itu yang oleh majikannya dijadikan pelacur, dan si majikan menikmati hidup mewah dari hasil ‘uang lendir’.

Karena di antara budak itu banyak yang dikawini oleh Belanda dan Cina yang datang ke Indonesia tanpa istri, harga budak wanita dua sampai tiga kali lipat harga budak pria. Waktu itu, memelihara budak merupakan simbol status sosial seseorang. Semakin banyak memiliki budak semakin tinggi statusnya.

Para budak termasuk beruntung bila ia dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, atau menjadi pengiring majikan –memayungi atau membawa tempat sirih dan tempat perhiasan– yang mempertontonkan kekayaannya. Di antara para budak belian ini ada yang khusus dipekerjakan sebagai grup orkes. Mereka menghibur si majikan saat santap malam bersama keluarga, atau menjamu tamunya. (deni:dari berbagai sumber)


Tradisi Grebeg Mulud yang Ratusan Tahun Tetap Terjaga

12 November 2008
Ngerayah Berkah Gunungan Sekaten Masyarakat Jogja punya tradisi Sekaten yang dilaksanakan setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi itu tak bisa dilepaskan dari Kerajaan Demak.
Sejarah menyebutkan, Raden Patah pada 1478 M diangkat sebagai raja Demak bergelar Sultan Syah Alam Akbar Penambahan Jimbun Anom. Di bawah kepemimpinan Raden Patah, Kerajaan Demak semakin eksis dan berkembang. Termasuk dalam melakukan syiar Islam ke berbagai penjuru. Salah satu syiar yang dilakukan pada saat itu adalah menggelar perayaan setiap Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perayaan itu selalu dilaksanakan di halaman masjid sehingga menjadi daya tarik masyarakat sekitar. Sunan Kalijaga lantas memanfaatkannya sebagai sarana dakwah. Melalui perayaan tersebut, masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat (dalam bahasa Arab disebut syahadatain).

Dalam lidah orang Jawa, kata-kata syahadatain berubah menjadi Sekaten. Sejak itulah, perayaan yang digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW biasa disebut Sekaten. Dalam perjalanannya, Sekaten menjadi tradisi yang terus dilestarikan setelah Kerajaan Islam pindah ke Pajang. Lalu, dari Pajang ke Mataram, hingga pindah ke Kartosuro dan Jogjakarta. Sekaten menjadi tradisi yang terbukti tak pudar meski berganti zaman.

Upacara Sekaten dimulai tanggal 5 (lima) bulan Jawa ketiga atau Mulud. Rangkaian upacara diawali miyos gongso yang telah dilaksanakan tanggal 13 Maret lalu. Miyos gongso merupakan prosesi keluarnya dua gamelan pusaka milik Keraton Jogja, yakni Kiai Nagawilaga dan Kiai Gunturmadu. Dua gamelan yang telah berusia ratusan tahun itu diusung dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Besar Kauman. Jarak Keraton Jogja dengan Masjid Besar Kauman sekitar 400 meter.

Setiba di halaman Masjid Kauman, gamelan Kiai Nagawilaga ditempatkan di pagongan utara, sedangkan Kiai Gunturmadu di pagongan selatan. Dua gamelan itu dibunyikan secara bergantian. Gending-gending yang dilantunkan adalah Yaume, Salatun, Ngajatun, Supiyatun, Dendang Subinah, Rambu-Rambu, Rangkung, Lung Gadhungpel, Atur-Atur, Andong-Andong, Rendeng-Rendeng, Gliyung, Burung Putih, Orang Aring, Bayemtur, dan Srundeng Gosong.

Masyarakat Jogja sampai saat ini masih ada yang meyakini bahwa mendengarkan gamelan itu akan mendapatkan berkah. Saat gamelan berada di pagongan utara dan selatan, di halaman Masjid Kauman dipadati masyarakat yang mengais rezeki. Mereka menjual apa saja. Mulai nasi kuning, soto, berbagai macam minuman, wedang ronde, telur merah, hingga perlengkapan nginang (daun sirih, gambir, dan injet).

Itulah sebabnya, halaman masjid menjadi tempat yang paling banyak didatangi masyarakat. Terutama dari daerah pedesaan di seantero Jogja dan sekitarnya.

Menjelang berakhirnya tanggal 11 Mulud (tadi malam, Red), dilaksanakan kondur gongso. Kondur gongso merupakan upacara kembalinya gamelan Kiai Nagawilaga dan Kiai Gunturmadu ke keraton.

Seperti ketika miyos gongso, ribuan orang saat itu rela berdesak-desakan menyaksikan arak-arakan diusungnya dua gamelan pusaka Keraton Jogja itu. Seperti yang terjadi tadi malam, jalan-jalan yang menjadi rute arak-arakan dipadati masyarakat.

Setelah upacara selesai sekitar pukul 23.30 (tadi malam), masyarakat tidak meninggalkan lokasi. Mereka yang berasal dari luar Jogja memilih tidur di jalan-jalan yang berdekatan dengan Masjid Kauman dan Keraton Jogja.

Untuk apa? Mereka ingin menyaksikan garebeg yang dilaksanakan pagi ini sekitar pukul 08.00. Garebeg merupakan puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilangsungkan tanggal 12 bulan Jawa Mulud.

Upacara diawali parade prajurit keraton. Barisan paling depan adalah prajurit Wirobrojo. Prajurit ini populer dengan nama prajurit Lombok Abang. Di belakangnya prajurit Dhaeng, Jogokariyo, Patangpuluh, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, dan Mantrijero. Parade prajurit berangkat dari Kemandungan Lor Kraton.

Prajurit yang berjumlah ratusan orang dengan seragam berbeda itu lantas melewati Siti Hinggil dan Pagelaran Keraton. Disusul arak-arakan gunungan yang digotong para abdi dalem. Enam gunungan pada Garebeg Mulud yang keluar dari keraton dikawal Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Arak-arakan gunungan itu disambut tembakan salvo saat keluar dari Pagelaran Keraton menuju Alun-Alun Utara.

Gunungan lalu diarak menuju halaman Masjid Kauman. Setelah didoakan oleh penghulu keraton, gunungan berisi uba rampe itu langsung dirayah masyarakat. “Gunungan laki-laki yang satu dibawa ke halaman Masjid Kauman, sedangkan yang satunya dibawa ke Puro Pakualaman,” terang Bekel Wirokaryo.

Mereka yang mendapatkan uba rampe gunungan tampak senang. Mereka meyakini, uba rampe seperti hasil bumi yang berada di tangannya memberi banyak manfaat. Antara lain, diyakini dapat menyuburkan tanaman dan penolak bala.


Wayang, Masterpiece Nenek Moyong Yang Menjadi Warisan Dunia

12 November 2008
Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti “bayangan”. Jika ditinjau dari arti filsafatnya “wayang” dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.
Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Pertunjukan wayang kulit ini pada dasarnya merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk menuju “Hyang”, dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek moyangnya.

Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas. Upacara semacam ini diperkirakan timbul pada jaman Neohithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM. Dalam perkembangannya kemudian upacara ini dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian, atau menjadikannya suatu pekerjaan tetap, yang disebut dalang.

Dalam kurun waktu yang cukup lama pertunjukan wayang kemudian terus berkembang setahap demi setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan pendidikan.

Mengenai jenis wayang yang dikenal oleh masyarakat Jawa, para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu “Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek).

Kelengkapan Wayang

Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritra wayang dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana sebagai vokalisnya.

Di samping itu, seorang dalang kadang kadang juga mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera.

Fungsi dalang di sini adalah mengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan. Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh dalam alur ceritera yang disajikan. Bahkan sampai pada adegan yang kecil-kecilpun harus ada kekompakan di antara semua crew kesenian tersebut.

Dengan demikian, di samping dituntut untuk bisa menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan, seorang dalang juga harus mengerti tentang gending (lagu). Desain lantai yang dipergunakan dalam permainan wayang berupa garis lurus, dan dalam memainkan wayang, seorang dalang dibatasi oleh alas yang dipakai untuk menancapkan wayang.

Dalam pertunjukan wayang dikenal set kanan dan set kiri. Set kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan set kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka. Walaupun demikian ketentuan ini tidak mutlak. Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa gunungan.

Pertunjukan wayang bisa dilakukan pada siang maupun malam hari, atau sehari semalam. Lama pertunjukan untuk satu lakon adalah sekitar 7 sampai 8 jam. Instrumen musik yang digunakan dalam mengiringi pertunjukan wayang secara lengkap adalah gamelan Jawa pelog dan slendro, tetapi bila tidak lengkap yang biasa digunakan adalah dan jenis slendro saja.

Vokalis putri dalam iringan musik yang disebut waranggono bisa satu orang atau lebih. Di samping itu, masih ada vokalis pria yang disebut penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya 4 sampai 6 orang dan bertugas mengiringi waranggana dengan suara “koor”. Vokalis pria ini bisa disediakan khusus atau dirangkap oleh penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan adalah juga penggerong.

Dalam menentukan lakon yang akan disajikan seorang dalang tidak bisa begitu saja memilih sesuai dengan kehendaknya. Ia dibatasi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah: (1) jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peragaan; (2) kepercayaan masyarakat sekitarnya; (3) keperluan diadakannya pertunjukan tersebut. (DENI/berbagai sumber)


Gamelan, Orkestra ala Jawa

12 November 2008
Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.
Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.

Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.

Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri, musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazz-gamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis. (http://www.yogyes.com/)


Stadsschouwburg , Dari Opera Italia Sampai Ketoprak Humor

11 November 2008
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) merupakan salah satu bangunan cagar budaya (BCB) yang berhasil dipelihara dan berfungsi sebagaimana awalnya serta menjadi wadah apresiasi seni dan kebanggaan masyarakat Jakarta. Gedung megah dengan gaya campuran Ionic dan Corinthian yang sedang trend pada waktu itu sudah berusia ratusan tahun.
Rata Penuh
Bangunan yang sekarang adalah bangunan asli yang dibangun oleh Firma Lie A Gie dengan biaya pernbangunan seluruhnya sebesar 67.707,066 gulden dengan rincian 31.000 gulden untuk bangunan dan 36.707 gulden untuk dekorasi, mebel serta perlengkapan panggung. Luas bangunan gedung 144 kaki x 60 kaki (43 m x 18 m dan luas tanah 4.562,50 m2). Tiang-tiang besar dan sebuah patung dewa kesenian menghiasi serambi depan gedung tersebut. Di pintu gerbang GKJ diukir tulisan “Ut Desint Vires, Tamen Est Laudanda Voluntas” artinya : Dengan segala kekurangannya pun, niat baik selalu terpuji. Hal ini mengingatkan kita pada kelompok Ut Desnit sebagai cikal bakal berdirinya Stadsschowburg.

Dekorasi, perabotan dan panggung serta sistem penerangan sungguh menakjubkan. Penataannya diatur dengan citra tinggi. Ragam hias tumbuh-tumbuhan dan kepala manusia yang diberi cat pada tembok menghiasi seluruh ruangan. Sekarang setelah pemugaran luas bangunan seluruhnya menjadi 2.211 m2 terdiri dari bangunan induk 1.620 m2 dengan kapasitas 420 kursi penonton dibangun tiang tembok pagar antik kelifing yang tebal, kokoh dan artistic.

Sejarah dan Peranan Gedung

Gedung Kesenian Jakarta yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat ini adalah salah satu BCB yang sejak awal hingga kini berfungsi sebagai arena untuk pergelaran kesenian. Pada waktu masa Pemerintahan Inggris menguasai Batavia, Leutenan Gubernur Inggris pada waktu itu Sir Thomas Stanford Raffles mewujudkan ide untuk mendirikan sebuah tempat pertunjukan hiburan di Batavia pada tahun 1811. Keinginan ini didorong oleh pertimbangan bahwa para serdadu Inggris suka bermain sandiwara di arena terbuka, maka didirikanlah sebuah gedung pertunjukan semi permanen dengan bahan bangunan dinding kayu dan dominan bambu, atap rumbia tepatnya pada 27 Oktober 1814 diberi nama Gedung Teater Militer namun lebih dikenal dengan Municipal Theater, yang dapat menampung ± 250 tempat duduk

Kemampuan para serdadu Inggris untuk berakting di panggung sandiwara tidak dapat berlangsung lama karena mereka berhasil dikalahkan oleh tentara Belanda sehingga harus hengkang dari Hindia Belanda. Municipal Theater akhimya berpindah tangan dan dikembangkan oleh Belanda. Banyak keluarga Belanda yang sering berkunjung dan akhirnya membentuk suatu perkumpulan teater dengan nama Ut Desint yang peresmiannya dilaksanakan 21 April 1817 melalui Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 6 Juli 1820 untuk memugar gedung peninggalan Inggris tersebut. Dan sejak 1820 itulah gedung pertunjukan ini berubah namanya menjadi Gedung Kesenian, dan mendapat dukungan langsung dari Pernerintah Hindia Belanda. Pemugaran tahap pertama dengan bahan modern dilaksanakan oleh kontraktor Firma Lie A Gie. Pekerjaan selesai pada tanggal 7 Desember 1821 dan diresmikan dengan nama gedung “Stadsschowburg”. Sejak awal berdirinya dipergunakan untuk tempat pagelaran kesenian. Jenis-jenis kesenian yang dipentaskan seperti sandiwara, tonil, musik (teater dan opera).

Stadsschowburg dikenal sebagai tempat pertunjukan orang-orang kulit putih, tercatat opera Italia sering melawat ke Betawi dan mementaskan pertunjukan opera di stadsschowburg. Konon lakon-lakon tersebut dimainkan dalam bahasa Italia yang umumnya tidak dipahami oleh orang-orang Belanda. Akan tetapi kondisi itu tidak menjadi soal, sebab di muka pintu masuk mereka mendapat buku berisi teks dalam bahasa Belanda. Lagi pula lakon-lakon termasyur yang dimainkan itu sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Gedung yang berpenampilan mewah ini pernah digunakan untuk kongres pemuda pertama tahun 1926. Pada awal masa pendudukan Jepang, Stadsschowburg dijadikan salah satu markas tentara Jepang. Namun sejak April 1943 Stadsschowburg dikembalikan pada fungsi semula sebagai gedung pertunjukan dengan nama Siritsu Gekizyoo. Beberapa seniman Indonesia yang tidak loyal kepada Jepang masih diberi kesempatan untuk tampil, seperti Usmar Ismail, Rosihan Anwar, HB Yasin, Soenarjo Soenarto, D. Djaya Kusuma, Kusbini dan Cornelis Simanjuntak.Dan digedung ini pula pada 29 Agustus 1945, Presiden Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian beberapa kali bersidang digedung ini pula.

Menjelang kemerdekaan, Gedung Kesenian Jakarta dijadikan tempat pertemuan para seniman muda pejuang yang tergabung dalam kelompok “Seniman Merdeka” dengan menggunakan sebuah truk tua berkeliling mempertunjukkan sandiwara menghibur para pejuang di garis depan untuk memberi semangat perjuangan.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan gedung ini kembali di pergunakan untuk tempat pagelaran kesenian. Sekitar tahun 1951 gedung ini dipergunakan tempat kuliah mahasiswa UI bagi Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum, pada waktu siang hari dan malam harinya tetap dipergunakan sebagai tempat pagelaran kesenian.

Dari tahun 1957-1961 mahasiswa-mahasiswa ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) pemah memanfaatkan gedung ini sekaligus sebagai arena praktek acting. Tahun 1968 fungsi gedung berubah menjadi Bioskop Dana. Setahun kemudian berubah nama menjadi Bioskop City Theater hingga tahun 1989.

GKJ kembali mendapat perhatian khusus, terutama dalam rangka mewujudkan Jakarta sebagai kotajasa yang didalamnya mencakup aspek kebudayaan dan permuseuman. Sudah sepantasnya GKJ sebagai salah satu asset daerah yang tak ternilai harganya itu dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Sumber dana yang dialokasikan pada GKJ janganlah dianggap sebagai cost (biaya) tetapi harus dipandang sebagai investasi.

Kini tempat duduk, ornamen, suhu dan perlengkapan lainnya lebih dibenahi hingga GKJ sekarang semakin berpenampilan lebih segar dan anggun dengan penyusunan acara yang cermat, baik untuk pertunjukan tradisional maupun modem. Tercatat ketoprak humor yang disiarkan di televisi swasta sering mentas di GKJ.

Semaraknya seni dan budaya sangat berpengaruh pula pada perawatan gedung yang dapat dikelola dengan baik yang pada akhimya akan memberikan kontribusi positip bagi kota Jakarta yang diposisikan sejajaur dengan kota-kota lainnya di dunia.

GKJ barangkali bisa menjadi acuan, bagaimana sebuah BCB yang sudah berumur ratusan tahun mampu dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan bahkan menjadi kebangaan bagi warga kota Jakarta. termasuk bagi para wisatawannya. Menjadi suatu tantangan bagi manajemen ke depan, sebagaimana wisatawan Bali belum menikmati Bali seluruhnya sebelum menonton atraksi tari barong di Gedung Kesenian Nitya Mandala di Denpasar,’ Bali. Begitulah hendaknya dengan Jakarta terhadap GKJ. (deni:berbagai sumber)