Stadsschouwburg , Dari Opera Italia Sampai Ketoprak Humor

11 November 2008
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) merupakan salah satu bangunan cagar budaya (BCB) yang berhasil dipelihara dan berfungsi sebagaimana awalnya serta menjadi wadah apresiasi seni dan kebanggaan masyarakat Jakarta. Gedung megah dengan gaya campuran Ionic dan Corinthian yang sedang trend pada waktu itu sudah berusia ratusan tahun.
Rata Penuh
Bangunan yang sekarang adalah bangunan asli yang dibangun oleh Firma Lie A Gie dengan biaya pernbangunan seluruhnya sebesar 67.707,066 gulden dengan rincian 31.000 gulden untuk bangunan dan 36.707 gulden untuk dekorasi, mebel serta perlengkapan panggung. Luas bangunan gedung 144 kaki x 60 kaki (43 m x 18 m dan luas tanah 4.562,50 m2). Tiang-tiang besar dan sebuah patung dewa kesenian menghiasi serambi depan gedung tersebut. Di pintu gerbang GKJ diukir tulisan “Ut Desint Vires, Tamen Est Laudanda Voluntas” artinya : Dengan segala kekurangannya pun, niat baik selalu terpuji. Hal ini mengingatkan kita pada kelompok Ut Desnit sebagai cikal bakal berdirinya Stadsschowburg.

Dekorasi, perabotan dan panggung serta sistem penerangan sungguh menakjubkan. Penataannya diatur dengan citra tinggi. Ragam hias tumbuh-tumbuhan dan kepala manusia yang diberi cat pada tembok menghiasi seluruh ruangan. Sekarang setelah pemugaran luas bangunan seluruhnya menjadi 2.211 m2 terdiri dari bangunan induk 1.620 m2 dengan kapasitas 420 kursi penonton dibangun tiang tembok pagar antik kelifing yang tebal, kokoh dan artistic.

Sejarah dan Peranan Gedung

Gedung Kesenian Jakarta yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat ini adalah salah satu BCB yang sejak awal hingga kini berfungsi sebagai arena untuk pergelaran kesenian. Pada waktu masa Pemerintahan Inggris menguasai Batavia, Leutenan Gubernur Inggris pada waktu itu Sir Thomas Stanford Raffles mewujudkan ide untuk mendirikan sebuah tempat pertunjukan hiburan di Batavia pada tahun 1811. Keinginan ini didorong oleh pertimbangan bahwa para serdadu Inggris suka bermain sandiwara di arena terbuka, maka didirikanlah sebuah gedung pertunjukan semi permanen dengan bahan bangunan dinding kayu dan dominan bambu, atap rumbia tepatnya pada 27 Oktober 1814 diberi nama Gedung Teater Militer namun lebih dikenal dengan Municipal Theater, yang dapat menampung ± 250 tempat duduk

Kemampuan para serdadu Inggris untuk berakting di panggung sandiwara tidak dapat berlangsung lama karena mereka berhasil dikalahkan oleh tentara Belanda sehingga harus hengkang dari Hindia Belanda. Municipal Theater akhimya berpindah tangan dan dikembangkan oleh Belanda. Banyak keluarga Belanda yang sering berkunjung dan akhirnya membentuk suatu perkumpulan teater dengan nama Ut Desint yang peresmiannya dilaksanakan 21 April 1817 melalui Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 6 Juli 1820 untuk memugar gedung peninggalan Inggris tersebut. Dan sejak 1820 itulah gedung pertunjukan ini berubah namanya menjadi Gedung Kesenian, dan mendapat dukungan langsung dari Pernerintah Hindia Belanda. Pemugaran tahap pertama dengan bahan modern dilaksanakan oleh kontraktor Firma Lie A Gie. Pekerjaan selesai pada tanggal 7 Desember 1821 dan diresmikan dengan nama gedung “Stadsschowburg”. Sejak awal berdirinya dipergunakan untuk tempat pagelaran kesenian. Jenis-jenis kesenian yang dipentaskan seperti sandiwara, tonil, musik (teater dan opera).

Stadsschowburg dikenal sebagai tempat pertunjukan orang-orang kulit putih, tercatat opera Italia sering melawat ke Betawi dan mementaskan pertunjukan opera di stadsschowburg. Konon lakon-lakon tersebut dimainkan dalam bahasa Italia yang umumnya tidak dipahami oleh orang-orang Belanda. Akan tetapi kondisi itu tidak menjadi soal, sebab di muka pintu masuk mereka mendapat buku berisi teks dalam bahasa Belanda. Lagi pula lakon-lakon termasyur yang dimainkan itu sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Gedung yang berpenampilan mewah ini pernah digunakan untuk kongres pemuda pertama tahun 1926. Pada awal masa pendudukan Jepang, Stadsschowburg dijadikan salah satu markas tentara Jepang. Namun sejak April 1943 Stadsschowburg dikembalikan pada fungsi semula sebagai gedung pertunjukan dengan nama Siritsu Gekizyoo. Beberapa seniman Indonesia yang tidak loyal kepada Jepang masih diberi kesempatan untuk tampil, seperti Usmar Ismail, Rosihan Anwar, HB Yasin, Soenarjo Soenarto, D. Djaya Kusuma, Kusbini dan Cornelis Simanjuntak.Dan digedung ini pula pada 29 Agustus 1945, Presiden Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian beberapa kali bersidang digedung ini pula.

Menjelang kemerdekaan, Gedung Kesenian Jakarta dijadikan tempat pertemuan para seniman muda pejuang yang tergabung dalam kelompok “Seniman Merdeka” dengan menggunakan sebuah truk tua berkeliling mempertunjukkan sandiwara menghibur para pejuang di garis depan untuk memberi semangat perjuangan.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan gedung ini kembali di pergunakan untuk tempat pagelaran kesenian. Sekitar tahun 1951 gedung ini dipergunakan tempat kuliah mahasiswa UI bagi Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum, pada waktu siang hari dan malam harinya tetap dipergunakan sebagai tempat pagelaran kesenian.

Dari tahun 1957-1961 mahasiswa-mahasiswa ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) pemah memanfaatkan gedung ini sekaligus sebagai arena praktek acting. Tahun 1968 fungsi gedung berubah menjadi Bioskop Dana. Setahun kemudian berubah nama menjadi Bioskop City Theater hingga tahun 1989.

GKJ kembali mendapat perhatian khusus, terutama dalam rangka mewujudkan Jakarta sebagai kotajasa yang didalamnya mencakup aspek kebudayaan dan permuseuman. Sudah sepantasnya GKJ sebagai salah satu asset daerah yang tak ternilai harganya itu dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Sumber dana yang dialokasikan pada GKJ janganlah dianggap sebagai cost (biaya) tetapi harus dipandang sebagai investasi.

Kini tempat duduk, ornamen, suhu dan perlengkapan lainnya lebih dibenahi hingga GKJ sekarang semakin berpenampilan lebih segar dan anggun dengan penyusunan acara yang cermat, baik untuk pertunjukan tradisional maupun modem. Tercatat ketoprak humor yang disiarkan di televisi swasta sering mentas di GKJ.

Semaraknya seni dan budaya sangat berpengaruh pula pada perawatan gedung yang dapat dikelola dengan baik yang pada akhimya akan memberikan kontribusi positip bagi kota Jakarta yang diposisikan sejajaur dengan kota-kota lainnya di dunia.

GKJ barangkali bisa menjadi acuan, bagaimana sebuah BCB yang sudah berumur ratusan tahun mampu dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan bahkan menjadi kebangaan bagi warga kota Jakarta. termasuk bagi para wisatawannya. Menjadi suatu tantangan bagi manajemen ke depan, sebagaimana wisatawan Bali belum menikmati Bali seluruhnya sebelum menonton atraksi tari barong di Gedung Kesenian Nitya Mandala di Denpasar,’ Bali. Begitulah hendaknya dengan Jakarta terhadap GKJ. (deni:berbagai sumber)


Borobudur, Warisan Keajaiban Dunia Yang Terlupakan

11 November 2008
Borobudur merupakan salah satu peninggalan sejarah terindah dan terbaik di dunia yang tercatat dalam Daftar Peninggalan Sejarah Dunia. Candi Borobudur adalah bangunan agama Budha terbesar di dunia dan telah diakui sebagai peninggalan sejarah terbesar yang pernah dibuat oleh manusia dan hingga kini selalu dikunjungi oleh jutaan turis domestik maupun mancanegara. Borobudur mempunyai bentuk bangunan yang tiada ada duanya di dunia. Bentuk arsitektur tersebut terinspirasi dari filsafat micro cosmos yang akan menimbulkan berbagai pertanyaan seperti kapan, bagaimana caranya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun dan oleh siapa.
Jawaban pasti akan hal tersebut masih merupakan misteri hingga saat ini karena tidak adanya satu dokumen pun yang bisa ditemukan. Berdasarkan tulisan singkat yang ada pada prasasti yang ditemukan, maka banyak ahli menyatakan bahwa Borobudur dibangun pada sekitar abad ke 8 ketika Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra memerintah kerajaannya di Jawa Tengah. Borobudur mempunyai arti yang samar-samar, tetapi sebenarnya kata tersebut merupakan sebuah gabungan kata “Bara” dan “Budur”. Bara berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti komplek candi atau biara, sementara Budur mengingatkan akan kata dari Bahasa Bali yang berarti di atas. Dengan demikian, Borobudur berarti biara yang terletak di atas bukit.

Borobudur adalah bangunan yang penuh dengan ornamen yang mengandung fosofi dimana ornamen-ornamen tersebut mempunyai symbol kesatuan dalam perbedaan yang dapat diikuti oleh semua orang untuk mencapai tujuan hidup yang paling mulia. Relief-relief yang terpahat pada tembok-tembok candi menceritakan akan ajaran hidup manusia yang sangat indah. Dengan kata lain, Borobudur adalah jiwa dari seni, budaya dan filsafat.

Borobudur merupakan Candi Budha terbesar di dunia yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Terletak disebelah Barat Laut kota Yogyakarta, sejauh lebih kurang 42 km. Dibangun pada abad ke 8, dengan kerja keras dan keringat yang membasahi dibawah sengatan terik matahari daerah tropis, ditunjang ketekunan para pekerja dan dedikasi yang tinggi dari kerabat dan rakyat wangsa Cailendra yang berkuasa pada saat itu. Candi itu benar-benar menampilkan kebesaran dan kemakmuran rakyat kerajaan Cailendra, yang berusaha menggambarkan riwayat hidup Sidharta Gautama dan menjelaskan ajaran-ajarannya melalui relief-relief yang terukiir indah pada dinding candi.

Dari puncak candi dapat dilihat alam sekeliling yang indah, gunung Sumbing yang sebagai salah satu type gunung indah dan type gunung berapi yang ada di Jawa Tengah pulau Jawa yang mengepulkan asap tampak di sebelah barat di antara awan yang bergerak. Bangunan ini merupakan peninggalan nenek moyang kita yang sangat berharga, bukan hanya bagi bangsa Indonesai tapi sebagai warisan dunia.

Bangsa Indonesia patut berbangga, karena candi yang sering disebut-sebut sebagai salah satu keajaiban dunia — dan mengundang minat orang dari seluruh penjuru dunia untuk mengunjunginya — Di sebelah barat candi Buddha ini membujur Pegunungan Menoreh, yang terlihat seperti seseorang yang sedang tidur. Bahkan beberapa cerita menyebutkan, itu adalah sang Gunadharma yang sedang tidur setelah selesai melakukan pembangunan Candi Borobudur. Konon, sang Gunadharma akan bangkit 1.000 tahun setelah tidur panjangnya untuk kembali memimpin bangsanya.

Lantas apa arti relief-relief yang terdapat pada dinding-dinding candi? Ukiran relief yang terdapat di dinding candi memuat banyak ajaran moral dan etika bagi masyarakat Jawa kuno, yang pada masanya sengaja dimanfaatkan para penguasa untuk menghindari konflik, perselisihan, dendam, serta untuk menanamkan saling pengertian. Sejumlah candi di Jawa Tengah, seperti Candi Mendut, Prambanan, dan Sojiwan, mengusung pesan-pesan itu. Selain itu, relief-relief candi juga menggambarkan kemakmuran dan kemajuan peradaban masyarakt waktu itu.

Tidak banyak catatan yang menyebutkan. Hanya saja, arkeolog JG de Casparis menghubungkan pembangunan Candi Borobudur itu dengan asal usul raja-raja Sailendra yang beragama Buddha. Dalam salah satu prasasti yang bertarikh 842 Masehi terdapat kalimat kamulan I bhumi sambhara. Candi Borobudur itu sendiri setelah melalui masa kejayaannya, kemudian berangsur-angsur ditinggalkan dan akhirnya hanya menjadi onggokan yang banyak ditumbuhi pepohonan. Baru kemudian pada abad ke-18 Masehi, terdapat catatan yang menyebut Borobudur. Persisnya, di dalam Babad Tanah Jawi. Dikisahkan bahwa seorang pemberontak, Mas Dono yang melawan Sri Susuhunan Paku Buwono I, tertangkap di Desa Borobudur. Setengah abad kemudian, muncul lagi catatan, kali ini seorang pangeran dari Kasultanan Yogyakarta yang menyaksikan seribu arca di Borobudur.

Setelah kembali sepi dari perbincangan dan catatan tertulis, Borobudur mendapat perhatian dari Sir Thomas Stamfford Raffles. Pada 1834, ketika berkunjung ke Semarang, Raffles mendapat berita tentang temuan bangunan kuno yang terpendam dalam tanah. Raffles kemudian mengirimkan seorang perwira militer, Cornelius untuk membuktikan kebenarannya. Saat mengunjungi Borobudur, Cornelius dibantu dengan penduduk setempat membersihkan bangunan itu dari semak belukar dan tanaman yang tumbuh di atasnya. Pekerjaan membersihkan itu berakhir 1835 hingga seluruh bangunan terlihat.

Borobudur memiliki langgam candi yang sering disebut langgam Jawa Tengah Selatan. Ini berbeda dengan langgam Jawa Tengah Utara sebagaimana yang diwakili candi-candi Dieng, Gedongsongo dan lainnya, serta berbeda pula dengan candi-candi Jawa Timur. Ciri langgam Jawa Tengah Selatan ini antara lain bentuknya tambun, kebanyakan terbuat dari batu andesit, atapnya nyata berundak-undak, pintu berhiaskan kala makara, reliefnya timbul agak tinggi, kebanyakan menghadap ke timur, dan letak candi utama berada di tengah halaman.

Sementara itu, bangunan Candi Borobudur sebagai bentuk stupa, memiliki tiga tingkatan utama, yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu, bagian kaki, saat ini sudah tidak terlihat. Yang ada sekarang adalah batu-batu polos yang mencapai lebih dari 11.000 meter kubik menutup bagian kaki yang sebenarnya. Diperkirakan, pada saat bangunan ini sedang dibuat, batu-batu menjadi melesak ke dalam dan perlu ditambah dengan batu penguat baru yang kemudian menutupi batu asli. Pada bagian ini terdapat relief yang menceritakan Karmawibhangga yang melukiskan sebab dan akibat. Di atasnya, Rupadhatu, terdiri dari empat lorong bujur sangkar dan tiap lorong terdapat pagar langkan. Di bagian ini terdapat relief yang memuat cerita Gandaywuha, Lalitawistara, Awadana, dan Jataka. Kemudian memasuki tingkat atasnya lagi Arupadhatu. Sebelum memasuki tingkatan Arupadhatu, akan memasuki dataran berbentuk bujur sangkar tetapi tembok dalamnya sudah berbentuk lingkaran. Tidak seperti stupa-stupa yang berada di bagian bawahnya, pada stupa di Arupadhatu tidak ditemukan kisi-kisinya lagi.

Candi Borobudur, sebagai sebuah monumen raksasa memang patut untuk dikunjungi dan dijaga kelestariannya. Betapa tidak, bangunan ini juga memuat setidaknya 11 seri relief dengan tidak kurang dari 1.460 adegan. Sementara itu, di lingkungan Candi Borobudur juga bisa ditemukan arca dalam jumlah sangat banyak. Arca Buddha yang ada sangat mudah dikenali. Sang Buddha digambarkan dalam posisi duduk dengan mengenakan pakaian rahib, bahu kanan terbuka. Di bagian kepalanya terdapat semacam gelungan rambut yang disebut ushita, rambut ikal melingkar ke arah kanan, dan di antara kedua alis terdapat tonjolan kecil yang disebut urba.

Patung Buddha yang sendirian tidak pernah memegang sesuatu di tangannya kecuali yang ada dalam relief. Namun tangannya selalu menunjukkan sikap tertentu (mudra). Sedangkan di relung-relung di atas pagar langkan tingkat pertama terdapat patung Manushi Buddha yang menghadap ke luar. Tiap arah tertentu ditempati oleh Manushi Buddha tertentu pula. Di timur ditempati Kanakamuni, selatan Kacyapa, barat Cakyamudi, dan utara Maitreya. Masih ada lagi patung-patung Dhyani Buddha. (deni:berbagai sumber)