Alor, Menjanjikan Surga Wisata Budaya dan Tradisi

15 September 2008

Mengunjungi Alor ibarat kembali ke masa lalu. Semuanya terkesan unik dan antik. Apa yang dijumpai di Alor membawa kesan tersendiri dan mandalam. Indonesia tentunya harus berbangga karena memiliki Alor yang begitu indah alamnya dan kaya akan budaya serta adat tradisi. Masyarakatnyapun masih menjunjung kearifan lokal warisan nenek moyang mereka.

Alor merupakan salah satu dari 16 kabupaten/kota di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Terletak di antara Laut Flores (batas utara), Selat Ombay (batas selatan), Selat Wetar (batas timur) dan Selat Lomblen (batas barat). Negeri 15 Pulau ini memiliki luas wilayah, daratan 2.864,64 kilometer persegi (Km2) dan perairan 10.973,62 Km2.

Kalau selama ini orang menganggap Alor sebagai daerah terisolasi, mungkin karena akses transportasinya yang sulit, terutama dari Kupang, ibu kota Propinsi NTT. Tapi itu dulu. Sekarang akses transportasi ke Alor sudah semakin lancar.

Mengunjungai Alor saat ini tidaklah sulit, sebab pesawat yang menuju Alor yang tadinya dari Kupang-Alor hanya 3 kali dalam seminggu kini berkembang menjadi menjadi 5 kali dalam seminggu. Bahkan salahsatu maskapai penerbangan yang melayani rute ke Alor terkoneksi langsung dari Surabaya dan Jakarta. Bagi yang suka menempuh perjalanan lewat air ada layanan kapal fery dari Kupang-Alor 2 kali dalam seminggu.

Saat tiba di bandara Mali, Alor kita akan disuguhkan oleh tari penyambutan. Tarian tersebut merupakan kekayaan budaya yang dimiliki Alor. Dalam tarian tersebut wistawan yang datang akan diberikan kain selempang/selendang yang ditenun oleh perempuan-perempuan Alor. Kerajinan tenun bagi perempuan Alor adalah sebuah simbol eksistensi kedewasaannya. Makanya di Alor, perempuan dan tenun seperti dua sisi mata uang, satu sama lain tidak bisa dipisahkan.


Tidak jauh dari bandara Mali, obyek wisata yang indah dan mempesona sudah menanti, pantai Mali. Pantai yang masih asri dan alami layak dijadikan persinggahan pertama perjalanan wisata. Pantai pasir putih dengan air laut tenang ini mampu mengendurkan otot-otot yang tegang sehabis perjalanan yang melelahkan apalagi menikmantinya sambil makan jagung rebus atau bakar khas Alor. Selain itu, wisatawan juga akan disuguhkan pertunjukan seni tradisional seperti tari Lego-lego.


Dalam tari Lego-lego, wisatawan diajak menari bersama sambil mengelilingan sebuah tambur yang digendang. Bagi masyrakat Alot tari Lego-lego juga melambangkan kekuatan, persatuan, dan persaudaraan. Sebuah pengalam yang sulit untuk dilupakan.

Kampung Tradisonal

Hal menarik lainya yang terdapat di Alor adalah keberadaan kampung-kampung adat atau tradisional. Kampung tradisional tersebut dapat menjadi tujuan wisata alternatif, khususnya wisata budaya. Wisata budaya ini cukup dikenal oleh wisatawan mancanegara (Wisman). Ini setidak-tidaknya terukur dari banyaknya Wisman yang datang ke Alor dan menanyakan keberadaan wisata budaya Alor.

Sebut saja, perkampungan tradisional Takpala di Kecamatan Alor Tengah Utara. Perkampungan ini memiliki perumahan dan tradisi adat yang khas, seperti upacara belanga moko, pernikahan tradisional dan tarian lego-lego. Begitupun perkampungan tradisional Mombang, sekitar tujuh kilometer dari Kota Kalabahi, Kabupaten Alor. Kampung ini juga memiliki tradisi spesifik dalam cara membangun rumah, tari-tarian, sistem pernikahan ditambah dengan kondisi alam yang indah.

Wisata budaya lainnya dapat dinikmati di Kampung tradisional Bampalola, Kecamatan Alor Barat Laut (ABAL). Di kampung ini terdapat rumah adat laka tuil dengan berbagai ornamen upacara makan baru dan berbagai atraksi budaya. Begitu pun di Desa Alor Kecil dan Alor Besar di Kacamatan ABAL. Di kampung ini terdapat sunatan adat, pernikahan adat, tarian dan lego-lego. Di sana ada juga Al Quran tua yang terbuat dari kulit kayu, musik tradisional dan home stay. Pada waktu tertentu di kampung ini terdapat arus dingin, yang mengakibatkan banyak ikan naik kepermukaan air.

Ada juga kampung tardisional Lembur. Di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, tepatnya di sebuah bukit

dengan ketinggian kira-kira 450 meter dari permukaan laut, di areal seluas 5 hektare, terdapat sebuah mezbah lama peninggalan leluhur Lembur. Untuk menghidupkan kembali perkampungan yang memiliki tradisi ritual tinggi ini, belum lama ini masyarakat setempat melangsungkan acara-acara adat yang cukup menarik perhatian turis mancanegara. Di lokasi mesbah Lembur itu mereka membangun kembali sebuah rumah gudang (rumah adat orang Alor) dan sebuah home stay (vila). Di dalam rumah ini dipajang beraneka hasil kerajinan masyarakat.

Dari atas bukit itu pula, para pengunjung juga akan menikmati pemandangan panorama alam dan laut Teluk Kenari yang indah, sambil mencicipi makanan tradisional yang disiapkan oleh kelompok Sadar Wisata Budaya Lembur.

Moko, dari Simbol Status Sosial hingga Alat Musik

Selain Pulau Kenari, Kabupaten Alor juga dikenal sebagai Pulau Seribu Moko. Moko adalah penamaan masyarakat Alor terhadap Nekara yang tebuat dari perunggu. Konon Moko sudah ada sejak abad 14 Masehi. Sebenarnya seberapa penting arti Moko bagi masyarakat Alor ?

Secara fisik, Moko berbentuk seperti drum dengan diameter 40cm-60cm dan tinggi 80cm-100cm. Benda ini terbuat dari perunggu atau logam. Di sekujur tubuhnya terdapat hiasan tradisional yang disinyalir menyerupai motof hiasan di zaman kebudayaan Dongson, Vietnam utara

Orang Alor bisa membedakan dengan sangat baik setiap jenis Moko berdasarkan ragam hias, bentuk dan ukurannya. Secara umum Moka dapat dibedakan menjadi dua. Moko ynag diproduksi sebelum ada pengaruh Hindu di Indonesia dan Moko yang diproduksi sesudah ada pengaruh Hindu.

Moko adalah benda masa silam yang lahir dari tangan terampil nenek moyang. Di zamannya, ia berfungsi sebagai alat musik tradisional yang digunakan pada waktu upacara adat dan acara kesenian lainnya. Selain itu Moko juga dipakai alat tukar-menukar barang. Dan yang tertinggi, Moko juga digunakan sebagai Mas Kawin untuk meminang calon mempelai perempuan serta sebagai symbol status social masyarakat ALor.

Seorang peneliti Asing, Cora Dubois, menjelaskan empat fungsi Moko. Pertama, Moko sebagai simbol status sosial. Pemilki jumlah dan jenis Moko tertentu menunjukan status sosial sesorang dalam masyarakat. Misalnya Moko Malei Tana atau Moko Itkira. Kepemilikan Moko ini menunjukan status sosial yang cukup tinggi dan terpandang. Bahkan oarng yang memiliki Moko ini dalam jumlah tertentu akan cukup berpengaruh dalam setiap kepemimpinan tradisional.

Kedua, Moko sebagai peralatan belis atau mas kawin. Seorang pria yang hendak menikah harus menyerahkan sejumlah Moko kepada keluarga perempuan calon isteri. Kaum bangsawan menggunakan Moko Malei Tana sebagai mas kawin. Orang biasa menggunakan Moko Malei Utangpei yang disebut delapan bobak.

Ketiga, Moko sebagai alat tukar ekonomi. Sejak dahulu orang Alor mengenal Moko sebagai alat tukar seperti uang. Dalam hal ini Moko dapat ditukar dengan barang tertentu secara barter. Hal inilah yang kemudian menyebabkan inflasi pada jaman pemerintahan kolonial Belanda sehingga Belanda membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko.

Keempat, Moko sebagai alat musik. Moko dapat menggantikan fungsi tambur yang terbuat dari kayu dan kulit hewan Alat musik gong dan Moko biasanya dimainkan untuk pengiring tari-tarian. Dalam perspektif orang Alor, gong yang berbentuk plat dalam posisi telungkup adalah lambang kewanitaan. Sedangkan Moko berbentuk bulat dalam posisi berdiri adalah lambang kejantanan


Kang Dody, Merantau Demi Cari Uang Jalan Kaki (Cuanki)

9 September 2008

Sekilas kuliner ini mirip bakso khas Malang, tapi ketika diamati lebih seksama ternyata ada beberapa perbedaan yang mendasar dengan bakso khas Malang. Ya…bakso Cuanki adalah bakso khas Bandung yang mungkin hanya bisa ditemui di daerah Bandung, atau Jabodetabek.


Adalah Kang Dody (25), lelaki asal Garut ini yang selalu setia berkeliling menjajakan sekaligus memperkenalkan bakso Cuanki ke sekitar wilayah kediamanku. Biasanya Kang Dody lewat di depan rumahku sekitar jam 14.30 hingga 15.00.


Sekilas nama kuliner yang dijajakan Kang Dody mirip nama makanan Cina padahal kuliner ini asli dari Bandung. Ketika ditanya kenapa bakso yang dijualnya bernama Cuanki menurut Kang Dody nama Cuanki hanyalah akronim dari kata ‘cari uang jalan kaki.’


“Yang saya tahu pada awalnya para pedagang bakso Cuanki semuanya menggunakan rombong yang dipikul dan jualannya berjalan kaki, jadi itu mungkin yang menjadi alasan pemberian nama Cuanki alias cari uang jalan kaki,” jelas Kang Dody.


Menurut Kang Dody, dirinya berjualan bakso Cuanki sudah 6 tahun, 5 tahun di daerah Bandung dan baru 1 tahun di Bekasi. Awal kang Dody berjualan Cuanki sejak dirinya lulus SMA tahun 2003 silam. “Setelah lulus SMA saya merantau ke Bandung ikut teman dan di Bandung saya berjualan bakso Cuanki ini,” kata Kang Dody.


Pekembangan bakso Cuanki di Bandung dalam lima tahun terakhir, kata Kang Dody lumayan pesat, pasalnya cita rasa bakso Cuanki tidak kalah dengan bakso Malang yang sudah terkenal, apalagi munculnya bakso Cuanki melalui proses kreatif dan inovatif dan masyarakat Bandung sangat mendukung semua gagasan yang sifatnya kreatif dan inovatif.


“Awalnya ide bakso cuanki adalah perpaduan antara siomay khas Bandung dengan bakso khas Malang, kalau siomay Bandung diambil dari cara memasaknya yaitu dikukus sedangkan bakso khas Malang diambil dari cara penyajian dan jenis-jenis seperti ada bakso, siomay, tahu kulit, tahu putih dan ada krupuk bakwan yang juga ikut dikukus. Semuanya disajikan seperti bakso Malang dan dengan penyedap rasa bakso Malang yang paling dominan,” ungkap Kang Dody.


Perbedaan yang mendasar antara bakso Malang dan bakso Cuanki menurut Kang Dody terletak pada cara mengolah salah satu item bahannya. Kalau bakso Malang bakwannya kering dan garing sehingga dapat mejadi krupuk sedangkan bakso Cuanki bakwannya dikukus sama seperti bahan-bahan lainnya.


Ketika ditanya siapa yang mempopulerkan atau menemukan bakso Cuanki, Kang Dody mengaku tidak tahu yang dia tahu bakso Cuanki adalah bakso khas Bandung yang berbeda dengan jenis bakso lainnya seperti bakso Malang, Mie bakso, bakso Solo dan sebagainya.


Menurut Kang Dody, karena pesatnya pertumbuhan dan kepopuleran bakso Cuanki sebagai bakso khas Bandung, sehingga hal tersebut berpengaruh juga pada pertumbuhan penjual bakso Cuanki.”Dalam 5 tahun terakhir selama saya di Bandung para penjual bakso Cuanki di Bandung semakin banyak sehingga mengurangi pendapatan,” kata Kang Dody.


Karena itu, lanjut Kang Dody dirinya bertekad merantau ke Bekasi untuk berjualan bakso Cuanki karena dia melihat prospek penjualan bakso Cuanki di Bekasi masih cukup besar. “Di Bekasi orang yang berjualan bakso Cuanki masih sedikit, jadi saya masih punya harapan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik,” katanya.


Merantau ke Bekasi


Di Bekasi Kang Dody tetap berprofesi sebagai penjual bakso Cuanki, meskipun begitu kenekatannya untuk merantau ke Bekasi perlu diacungi jempol sebab bagi sebagian orang merantau memerlukan mental yang cukup kuat dan berani. “Niat saya untuk mengadu nasib di Bekasi hanya satu yaitu ingin merubah nasib agar lebih baik,” ungkap Kang Dody.


Menurut Kang Dody, dirinya merantau dan berjualan bakso Cuanki di Bekasi sudah satu tahun lamanya dan selama itu pula Kang Dody belum melihat adanya perkembangan yang pesat terhadap bakso Cuanki. “Di Bekasi bakso Cuanki belum begitu populer juga penjualnya belum begitu banyak,” kata Kang Dody.


Memang kalau dibanding dengan mie bakso atau bakso Malang, bakso Cuanki belum begitu populer dan belum banyak peminatnya, tengok saja di mal-mal yang ada di Bekasi atau di perkampungan, penjual bakso Cuanki sangat jarang atau bahkan tidak ada. “tetapi saya tetap yakin saya akan lebih baik berjualan di Bekasi daripada di Bandung,” katanya.


Menurut Kang Dody, dia berjualan bakso Cuanki mulai dari jam 1 siang hingga jam 9 malam. Biasanya harga rata-rata yang di patok Kang Dody untuk 1 porsi bakso Cuanki seharga Rp.4000. Namun ada juga yang membelinya dengan harga di bawah atau di atas harga yang ditetapkan. “kalau soal harga saya tidak mematoknya dengan leluasa pembeli boleh membelinya di bawah harga atau di atas harga rata-rata yaitu Rp.4000,” kata Kang Dody.


Soal pendapatan, menurut Kang Dody cukup buat hidup sehari-hari. Biasanya penghasilan bersih setelah dipotong setoran yang berjumlah Rp 60.000, kang Dody bisa mengantongi uang Rp 20.000 – 60.000. “Kalau lagi beruntung saya bisa menjual habis dagangan saya dan saya bisa membawa uang ke rumah Rp.60.000, tapi kalau buntung saya Cuma bawa pulang uang Rp.20.000,” jelasnya.


Meskipun berjualan dengan cara setoran, menurut Kang Dody, kalau dagangannya tidak habis Kang Dody tidak mengembalikan dagangannya ke juragan tetapi di bawanya pulang atau di makan sendiri. “Kalau dibilang setoran bisa juga karena segala peralatan dan bahan-bahan untuk berdagang telah disiapkan oleh juragan tetapi ketika dagangannya tidak habis, juragan tidak mau terima atau menanggung kerugian.” kata kang Dody.


Namun demikian harapan Kang Dody untuk mendapat penghasilan lebih baik di Bekasi tidak pernah putus. Bahkan Kang Dody semakin optimis bahwa pendapatannya akan semakin baik manakala bakso Cuanki khas Bandung semakin populer di Bekasi.(den)