Mas Jain, Mimpi Penjual Siomay Keliling Untuk Sejahtera

27 Mei 2008

Mengadu nasib di Jakarta ternyata tidak semudah yang dibayangkan, berbekal ijazah SMA yang dimilikinya Mas Khujaini atau biasa dipanggil mas Jain mencoba mengadu peruntungan dengan menjadi buruh disalah satu pabrik di Jakarta Timur. Tapi sayang nasib berkehandak lain, kesejahteraan yang diimpikan Mas Jain ketika berangkat ke Jakarta berubah 180 derajat ketika nasib membawanya menjadi penjual Siomay keliling di Jakarta.


Impian Mas Jain untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya dengan menjadi buruh di Jakarta memang kuat dan cukup beralasan pasalnya menurut Mas jain, kesempatan untuk meraih kesuksesah dan kesejahteraan di Jakarta sangatlah mudah.” Saya bilang cukup mudah karena dari segi pendapat UMR (red.upah minimum rata-rata) antara Jakarta dan daerah seperti Tegal misalnya sangat jauh berbeda,” terang mas Jain.

Menurut Mas Jain, untuk daerah Tegal, Jawa Tengah UMR buruh hanya Rp 300 ribu dan UMR daerah Jakarta sudah mencapai Rp 900 ribu sedangkan harga-harga kebutuhan pokok rata-rata hampir sama bahkan di Jakarta cenderung lebih murah. “Makanya menurut saya untuk mencapai kesejahteraan lebih cepat bekerja di Jakarta,” katanya.

“Dengan alasan pendapatan di Jakarta lebih besar saya nekad memberanikan diri hijrah ke Jakarta untuk bekerja menjadi di salah satu pabrik di daerah di Jakarta Timur. Dan menurut saya ketika bekerja menjadi buruh itulah saya merasa kehidupan saya jauh lebih baik dari sekarang karena gaji pokok saya sudah mencapai Rp 1 juta,” kata Mas Jain.

Alasan lain mengapa Mas Jain mengadu nasib di Jakarta adalah karena di daerahnya mencari pekerjaan sangat sulit. Sedangkan untuk menjadi petani tidak punya tanah untuk digarap. “Alasan-alasan seperti itu saya kira banyak yang dipakai oleh orang-orang yang mengadu nasib di Jakarta,” jelasnya.

Ketika ditanya bagaimana caranya agar orang-orang daerah tidak banyak mengadu nasib di Jakarta menurut Mas Jain pemerintah harus bisa menciptakan keadilan dalam pembangunan serta pemerataan distribusi pendapatan. Pemerintah juga harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan di daerah-daerah. “Saat ini Jakarta masih menjadi tempat impian untuk meraih kesuksesan karena di Jakarta pusat-pusat perdagangan dan indsutri tumbuh pesat, sedangkan di daerah perkembangan industrinya sangat lamban sekali,” terang Mas Jain.

Menurut Mas Jain, dirinya merantau ke Jakarta sudah enam tahun, dua tahun lamanya dia bekerja sebagai buruh kontrak pabrik kemudian ketika masa kontrak kerjanya habis selama satu tahun lebih dia bekerja sebagai kuli serabutan. Merasa sebagai kuli serabutan tidak punya penghasilan yang tetap akhirnya selama dua tahun lebih Mas Jain bekerja disebuah rumah makan padang dibilangan Rawa Mangun, Jakarta Timur. Menjadi pelayan di rumah makan padang boleh dibilang cukup membuat Mas Jain bernafas lega karena penghasilannya sebagai pelayan restoran ada sisanya untuk dikirim ke kampung. Akan tetapi ketika terjadi penggusuran restoran tempatnya bekerja hidupnya berbalik 180 derajat karena secara otomatis Mas Jain kehilangan mata pencahariannya. “Setelah restoran tempat saya bekerja kena gusur, selama beberapa bulan saya menganggur dan akhirnya saya memutuskan untuk berjualan siomay walaupun keuntungannya hanya cukup buat saya makan sendiri di sini,” kata Mas Jain.

Jualan Siomay

Menurut Mas Jain, dirinya berjualan siomay keliling baru enam bulan. Hal itu dia lakukan hanya untuk menyambung hidup dirinya setelah tidak lagi bekerja di restoran. Mimpinya untuk mensejahterakan keluarganya di kampung tetap dia patri karena dengan mimpinya itu dia masih tetap bertahan lebih.”Memang bisa hidup dan makan sehari sekali saja di Jakarta sudah untung, tetapi saya punya mimpi untuk mensejahterakan keluarga dikampung itulah yang membuat saya bertahan,” katanya lirih.

Berjualan siomay, lanjut Mas Jain bukanlah akhir dari usahanya. Harapannya yang masih dipegang adalah bisa membangun kembali restoran padang yang dulu pernah tergusur bersama teman-temannya. “Berjualan siomay keliling cuma mengisi waktu luang sekaligus untuk mempertahankan hidup di Jakarta. Saya masih punya harapan untuk bisa membangun kembali rstoran padang bersama teman-teman saya,” katanya.

Menurut Mas Jain, keuntungan berjualan Siomay sangat cukup buat dirinya sendiri pasalnya keuntungan yang dia dapat perhari hanya Rp 20 ribu itupun sangat berat karena siomay bukanlah makanan pokok hanya makanan sambilan.”keuntungan saya tiap hari maksimal Rp 20 ribu itupun jarang saya dapat mungkin karena siomay bukan nasi yang menjadi makanan pokok,” kata Mas Jain.

Mas Jain mengatakan, tiap hari dirinya berjualan siomay keliling dari mulai jam 14.30 hingga jam 22.00. Dalam sekali keliling Mas Jain biasa membawa siomay 300 buah setiap satu biji siomay Mas Jain mengambil keuntungan Rp 100. “300 biji siomay tiap hari saya jual namun jarang habis semunya,” katanya.

Untungnya, lanjut Mas Jain, dalam berjualan siomay dia hanya tinggal bawa saja siomay dan gerobaknya sudah disediakan oleh juragannya. “Dengan begitu walaupun keuntungan yang saya dapat cuma 20 ribu sehari, bagi saya itu lumayan buat bertahan hidup,” kata Mas Jain.

Menurut bapak satu anak ini, semenjak dirinya berjualan siomay keliling rasa percaya dirinya sangat rendah bahkan dia merasa telah hilang. “Saya kalau menghadapi pembeli sepertinya saya tidak ada harganya. Saya merasa saya orang yang paling kecil dan hina didunia ini,” jelas Mas Jain.

Lalu ketika ditanya apa yang membuatnya bertahan di Jakarta, menurut Mas Jain karena dirinya mempunyai mimpi untuk meraih kesejahteraan bagi keluarganya. Mimpi untuk menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Mimpi untuk menyenangkan istri. “Mimpi untuk meraih kesejahteraanlah yang sampai saat ini membuat saya bertahan dan kuat menjalani hidup di Jakarta, meskipun hidup di Jakarta teramat susah dan berat,” ungkap Mas Jain.


Kang Udin, Penjual Jajanan Pinggiran Yang Terpinggirkan

15 Mei 2008


Setiap hari lelaki muda ini menaiki kereta KRL ekonomi yang padat dan pengap dari Bogor ke Jakarta hanya untuk menjajakan jajanan “kampung”. Ya…Syarifudin atau Kang Udin biasa dia dipanggil oleh kawan-kawannya hanya menjajakan jajanan pinggiran seperti lepat, uli, tape ketan, kacang rebus, pisang rebus, telur asin, Ubi Rebus dan lain sebagainya.


Menurut Kang Udin, perjalanannya dari Bogor ke Jakarta menggunakan KRL ekonomi sangatlah berat karena disamping sangat padat dan panas dirinya juga membawa dua keranjang pikulan yang berisi jajanan-jajanan yang mau dijual. “Mungkin kalau saya hanya membawa diri tidak membawa keranjang pikulan tidaklah terlalu berat meskipun di kereta KRL ekonomi jurusan Bogor Jakarta sangat padat dan pengap,” jelas Kang Udin.

Perjalanan dengan menggunakan kereta KRL ekonomi dari Bogor ke Jakarta kalau kondisi lancar ditempuhnya hampir 1 jam 30 menit. Menurut Kang Uding perjalanan tersebut sangatlah menguras tenaga karena dia harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. ”Apalagi kalau kereta yang saya tumpangi ada gangguan ditengah jalan, panasnya minta ampun,” katanya.

Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan Kang Udin lakoni setiap hari demi mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya. Kang Udin Berangkat dari rumahnya di daerah Bogor sekitar pukul 06.00 WIB kemudian menaiki kereta KRL ekonomi Bogor-Jakarta Kota yang berangkat pukul 07-00 WIB.”Bapak mungkin tidak tahu kalau naik kereta KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta padat banget. Apalagi yang berangkatnya pas dengan jam kerja, penuhnya minta ampun. Sampe-sampe orang banyak yang naik di atap kereta,” jelas Kang Udin.

Menurut Kang Udin, dirinya sengaja naik kereta KRL ekonomi karena ongkosnya murah dan lebih cepat. Selain itu, di kereta KRL ekonomi bukan hanya Kang Udin yang naik tapi teman-teman seprofesinya juga banyak yang naik kereta KRL ekonomi. ”Meskipun naik kerata KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta pengap, panas dan berdesak-desakan serta sangat melelahkan tapi semua itu tidak terasa karena berangkatnya bersama-sama teman,” kata Kang Udin.

Kang Udin juga perna mengalami nasib yang sial ketika naik kereta KRL ekonomi. Menurut Kang Udin seperti biasanya waktu itu dia hendak berjualan kue ke Jakarta, ketika kereta yang ditumpangi tiba di stasiun Depok dan waktu itu penumpangnya sangat padat serta calon penumpang dari Depok juga banyak maka pas kereta KRL ekonomi berhenti di stasiun Depok berhenti, tiba-tiba pemumpang yang dari Depok berebut merangsek masuk ke dalam kereta kebetulan waktu itu Kang Udin posisinya dekat dengan pintu maka dagangan yang dibawa Kang Udin ikut terinjak-injak oleh penumpang. ”Begitulah suka duka naik angkutan rakyat kecil (red. KRL ekonomi) selain murah, kadang tidak manusiawi,” ungkap Kang Udin.

Jajanan Orang Pinggiran

Menurut Kang Udin kue-kue yang dijajakan Kang Udin juga bukan kue yang harganya mahal, tetapi hanya kue-kue kampung yang biasa dikonsumsi orang-orang kampung. ”Kue yang saya jual cuma kue lepat, kacang rebus, pisang rebus, tape ketan, uli, opak, dan telur asin. Itu semua jajanan orang kampung yang saat ini sudah langka,” jelas Kang Udin.

Kalau di kota orang kampung adalah orang-orang yang terpinggirkan. Biasanya orang-orang pinggiran pekerjaannya kasar-kasar seperti kuli, pedagang asongan, tukang parkir, supir dan sebagainya. ”jadi saya ini adalah orang kampung yang berjualan kue kampung, buat orang-orang kampung,” kata Kang Udin.

Berkaitan dengan harga kue yang realitif murah, Kang Uding mengatakan, Karena yang membeli kue kampung kebanyakan adalah orang-orang kampung yang ekonominya pas-pasan maka harga kue-kuenya juga harga pinggirin. ”Semua kue-kue yang saya jual harganya cuma Rp 1.000,- dan harga ini adalah harga yang pas buat orang-orang kampung,” jelas Kang Udin.

Ketika ditanya apakah keuntunga yang Kang Udin dapat cukup besar? Menurut Kang Udin keuntungan yang dia dapat tidaklah seberapa besar hanya cukup buat makan sehari-hari keluarganya.”Kalau dibilang untungnya besar ya tidak mungkin, karena kue-kue yang saya jual harganya hanya Rp 1.000 tapi kalau hanya buat makan keluarga cukuplah,” kata Kang Udin.

Untuk memperkecil biaya produksi, menurut Kang Udin semua kue-kue yang dijualnya tidak mempergunakana bahan-bahan yang harganya mahal, seperti tepung terigu atau lain-lainya. Kang Udin hanya mengolah hasil dari perkebunan seperti kacang tanah, pada ketan. Cara mengelolanya juga sederhana yaitu hanya direbus dengan menggunakan air. ”Dengan menjual kue-kue yang direbus selain mengirit biaya juga jauh lebih sehat dan alami,”kata Kang Udin.

Selain itu, lanjut Kang Udin jajanan-jajanan yang kang Udin jual dibuat sendiri olehnya dengan dibantu oleh istri. Untuk merebus ubi, pisang, membuat lepat, membuat uli dikerjakannya sejak subuh. ”Nah kalau tape ketan dan telur asin biasanya agak lama karena butuh proses. Kalau telur asin cukup sehari semalam untuk membuatnya asin, kalau tape agak lama yaitu 3 hari untuk proses jadi tapenya,” jelas Kang Udin.

Untuk pemasaran, menurut lelaki asli Bogor ini biasanya dia sendiri yang menjualnya di daerah Jakarta.”Saya biasanya menjual di daerah-daerah Menteng, Gondangdia, Monas, dan Tanahabang. Sengaja saya jual di daerah itu karena daerah seperti Tanahabang misalnya masih banyak orang Betawi asli dan orang-orang kampung,”katanya.

Alasan lain kenapa Kang Udin berjalan di daerah Jakarta, menurutnya karena di Jakarta jajanan atau kue-kue yang dijualnya terbilang langka dan hanya ada pada musim-musim tertentu. Seperti uli dan tape ketan misalnya, hanya ada ketika hari raya idul fitri atau idul adha. ”Padahal pada jaman dulu kue-kue seperti itu menjadi makanan setiap hari orang-orang betawi dan orang-orang Cina. Setiap tempat nongkrong atau ngopi kue-kue ini selalu tersedia,” jelas Kang Udin.

Ketika ditanya kenapa Kang Uding berjualan kue-kue kapung seperti itu? Menurut Kang Udin, selain pekerjaan seperti ini adalah warisan dari orang tua, juga karena mencari pekerjaan di pabrik sangat susah karena selalu mensyaratkan pakai ijazah minimal SMA, sedangkan dirinya hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat SMP itupun tidak selesai.

Begitu berat kehidupan Kang Udin, ketika Kota Bogor dan Jakarta telah bergeliat berkembang maju, Kang Udin dan orang tuanya tetap terpinggirkan seakan tidak tersentuh oleh perkembangan dan kemajuan. Profesi yang dia lakoni juga profesi pinggiran dengan menjual kue-kue pinggiran dan dimakan oleh orang-orang yang terpinggirkan. Kapankah nasib Kang Udin bergerak maju secara ajeg, seperti lajunya kereta KRL ekonomi yang setiap hari bergerak maju dari Bogor ke Jakarta yang setiap hari setia mengantarnya untuk berusaha.


Mama Sitna, Bertahan Dari “Luka” Konflik

15 Mei 2008

Ketika kita menyebut nama Ambon atau pulau Maluku, maka pikiran kita secara otomatis akan terasosiasi oleh kata konflik, kerusuhan, dan perang saudara. Dan mungkin sampai saat ini ada sebagian orang yang menganggap bahwa Maluku adalah daerah yang tidak aman padahal saat ini daerah Maluku, khususnya kepulauan Halmahera sangatlah kondusif.

Memang sisa-sisa konflik masih ada dan masih berbekas. Sisa-sisa tersebut ada yang sengaja dipertahankan dan dijadikan sebagai monument kelam sejarah serta sebagai pengingat bagi generasi yang akan datang bahwa perpecahan dan permusuhan adalah sesuatu yang amat sia-sia dan menyedihkan.

Ada juga sisa-sisa konflik yang memang belum sembuh benar dan harus segera disembuhkan agar tidak menjadi masalah dikemudian hari. Salah satu korban konflik yang belum sembuh adalah Mama Sitna. Perempuan kelahiran desa Malifut, Halmahera Utara ini mengaku ketika terjadi konflik pada tahun 1999 silam ladang dan rumahnya sempat terbakar.

Akibat konflik itu, tentunya perekonomian keluarga mama Sitna menjadi berantakan atau bahkan bangkrut. Ketika konflik sudah selesai tidak serta merta perekonomian keluarga mama Sitna menjadi lebih baik. Padahal dahulu sebelum terjadi konflik dari hasil ladang yang digarap suami mama Sitna mampu menghidupi 4 orang anak tanpa harus dibantu oleh mama Sitna. Namun saat ini meskipun hanya menghidupi kedua anaknya hasil ladang kelurga mama Sitna tidak mencukupi.

Beruntung ada sosok mama Sitna dalam keluarga itu, ya mama Sitna adalah salah satu perempuan yang memiliki didikasi seorang Ibu yang rela bekerja keras demi untuk meningkatkan perekonomian keluraga. Dia rela berjualan dari pagi hari hingga petang hanya untuk menjaga kedua anaknya agar tetap sekolah. Dan mama Sitna kiranya layak dijuluki Kartini masa kini.

Emansipasi yang didengung-dengungkan oleh kaum feminisme barat tentunya tidak berlaku bagi perempuan-perempuan Indonesia. Dibelahan budaya manapun di bumi nusantara ini perempuan mendapat harkat dan kedudukan yang setara dengan laki-laki. Lihatlah mama Sitna, kedudukannya sejajar dengan suaminya dalam menghidupi keluarga. Ketika suaminya berkebun mama Sitna sigap memasarkan hasil kebunnya. Ketika suami sebagai penopang ekonomi kelurga mulai lemah, mama Sitna cekatan menopangnya.

Berjualan Hasil Kebun

Menurut mama Sitna, berjualan hasil kebun seperti buah pisang, jambu air, jambu biji, kacang merah goreng, kacang kulit, jagung rebus dan hasil kebun lainnya dimulai semenjak berhentinya konflik 7 tahun silam. “Akibat konflik semua harta benda keluarga habis bahkan ladang yang menjadi satu-satunya tempat matapencahrain dibakar orang sehingga tanaman yang sudah besar dan banyak menghasilkan mati semua,” ungkapnya.

Menurut mama Sitna, dengan sisa-sisa tenaga dan harta kami sekeluarga bangkit dari keterpurukan akibat konflik. Bersyukur tanah di sini (red.desa Malifut) sangat subur sehingga untuk menanam apa saja pasti hidup sehingga kami sekeluarga bisa bertahan hidup. “awalnya kami cuma menanam ketela pohon, karena disamping mudah menanam dan merawatnya ketela pohon juga bisa sebagai makanan pengganti nasi sehingga mudah dimakan,” jelas mama Sitna.

Pada masa-masa awal, lanjut mama Sitna, berkebun untuk memenuhi kehidupan keluarga tidak menjadi persoalan akan tetapi beberapa bulan kedepan keluarga kami terdesak oleh kebutuhan-kebutuhan yang lainnya yang memerlukan uang kontan sebagai alat pembayaran. “seperti beli minyak tanah, minyak goreng, beli sabun, pakaian dan lain-lainnya yang memerlukan uang kontan,” kata mama Sitna.

Menghadapi kondisi yang kian sulit akhirnya mama Sitna memutuskan untuk berjualan apa saja. Menurut mama Sitna, awalnya dia hanya menjual singkong yang direbus, buah pisang pulo, buah jambu dan segala hasil kebun yan bisa dijual. “pokoknya saya menjual apa saja dari hasil kebun yang bisa saya jual yang penting saya bisa mendapatkan uang kontan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata mama Sitna.

Meskipun keuntungan yang didapat dari berjualan tidak seberapa banyak, menurut mama Sitna hasilnya sangat berarti buat keluarganya karena dari uang yang tidak seberapa itu dia bisa membeli minyak tanah untuk memasak maupun memberi uang jajan bagi kedua anaknya yang saat ini masih sekolah di bangku SMK Pertanian. “untungnya biaya pendidikan ringan, sehingga anak-anak saya bisa sekolah semua,” ujar mama Sitna.

Menurut mama Sitna, hasil berjualan dari hasil kebun biasanya perhari hanya dapat mengantongi uang sebanyak Rp. 20.000 dan jumlah tersebut sangat kurang untuk biaya hidup pulau Halmahera yang semuanya serba mahal. Dan kalau kalau dagangan habis mama Sitna hanya mengantongi uang Rp. 60.000 itupun jarang sekali terjadi.”uang segitu cukup buat keluarga saya, karena uang yang saya dapat dari hasil kebun sendiri yang tidak perlu dipotong untuk modal lagi,” katanya.

Menurut mama Sitna, dirinya berjualan di depan warung makan di pinggir jalan trans Halmahera Utara. Setiap hari mama Sitna berjualan mulai jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Meskipun begitu, mama Sitna tidak pernah mengeluh terhadap nasib yang diterimanya. Baginya hidup dan keluarganya adalah berkah yang terbesar yang diberikan Tuhan sehingga mama Sitna senantiasa berjuang demi kehidupan keluragnya.

Prinsip hidupnya adalah berjuang untuk menghidupi kelurganya patut dijadikan teladan. Apalagi apa yang dia lakoni selama ini yaitu berjualan hasil kebun sendiri merupakan hasil usahanya sendiri dan keluarga tanpa ada bantuan dari orang lain. Kiranya sosok seperti mama Sitna inilah yang layak mendapat dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat untuk ekonomi produktif karena dana BLM tersebut sudah ditetapkan bahwa perempuan mendapat jatah 25% dari total dana BLM yang ada. Namun sayang hingga saat ini mama Sitna tidak pernah mengerti bahwa ada bantuan permodalan bagi perempuan seperti dirinya.


Mbak Eni, Perempuan Gigih Penjual Kue Keliling

14 Mei 2008

Kue…kue…kue…teriakan melengking seorang penjual kue memecah kebekuaan dan keheningan pagi. Ya…setiap pagi mbak Eni berkeliling kampung, dari satu RT ke RT lain sambil menjunjung barang dagangannya untuk dijajakan ke setiap rumah. Ya..setiap pagi mbak Eni menghantarkan energi dengan kuenya kesetiap rumah.

Jangan dikira pekerjaan yang dilakoni mbak Eni merupakan pekerjaan biasa, jangan dikira bahwa pekerjaan yang ditekuni mbak Eni merupakan pekerjaan ringan. Pekerjaan mbak Eni adalah pekerjaan yang luar biasa, pekerjaan yang Eniia, juga pekerjaan yang berat, karena pekerjaan mbak Eni setiap pagi adalah bersilaturahmi sambil menghantarkan kue ke rumah-rumah.

Setiap pagi Eniai dari jam 05.30 sampai jam 11 mbak Eni berkeliling kampung yang terdiri dari 7 RT mendatangi setiap rumah dengan membawa kue. Tidak tanggung-tanggung kue yang dibawanya sebanyak 600 biji dan diperkirakan beratnya sekitar 20-30 kg. Beban tersebut mbak Eni bawa sendiri dengan ditaruh di atas kepalangnya, benar-benar perempuan yang luar biasa.

Kue-kue yang dijajakan mbak Eni sangat bervariasi dan semuanya bernuansa tradisional atau kue rakyat. Ada Kue dadar gulung yang manis, martabak tahu, risol, pisang goreng, kue cucur, kue nagasari, kue unti, kue gemblong dan masih banyak lagi. Kue-kue tersebut dipatok harganya Rp.500 perbiji. Ada juga yang harganya Rp 1000 tapi hanya kue piscok (pisang coklat).

Menurut mbak Eni, keuntungan berjualan kue keliling tidaklah seberapa besar. Dari 600 kue yang dibawa keuntungan yang didapat hanya sekitar Rp 35.000 sampai Rp 45.000. itu artinya keuntungan yang diambil setiap satu kue hanya Rp50-Rp75 saja. ”Kalau saya ngambil untung yang gede nanti pelanggan saya kabur semua, apalagi sekarang ini hidup semakin susah. Barang-barang mahal, kasihan orang-orang kecil,”kata mbak Eni.

Berdagang kue dengan keuntungan yang kecil bagi mbak Eni harus tetap disyukuri karena dengan berdagang kue seperti itu mbak Eni masih bisa menyekolahkan kedua anaknya dan mengontrak rumah. ”meskipun berjualan kue untungnya kecil tapi Alhamdulillah bisa buat biaya sekolah dan ngontrak rumah. Keuntungan yang tidak seberapa itu juga bisa untuk bertahan hidup,” katanya.

Semenjak suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu, berjualan kue menjadi tumpuan untuk menyambung hidup mbak Eni dan kedua anaknya. Karena, menurut mbak Eni berjualan kue sudah dilakoninya semenjak tahun 1997 dan pada tahun tersebut suaminya masih hidup.”saya berjualan sejak tahun 1997 hingga saat ini. Dulu motivasi berjualan adalah untuk membantu ekonomi keluarga tapi semenjak suami saya meninggal beberapa tahun lalu berjualan kue menjadi penopang ekonomi keluarga,” jelas mbak Eni.

Berjualan kue keliling, lanjut mbak Eni merupakan pekerjaan yang mulia karena diperintahkan agama karena dalam berjualan kue keliling mbak Eni pasti singgah di rumah-rumah sehingga itu bisa dianggap bersilaturahmi.”Selain bisa silaturahmi, berjualan keliling merupakan salah satu cara agar bisa menjual kue,” jelas mbak Eni.

Menurut mbak Eni, berjualan kue keliling lebih menguntungkan daripada harus menjadi pembantu atau kuli cuci karena dari hasil berjualan kue keliling uangnya bisa diputar lagi. Atau bisa buat gali lobang tutup lobang.” yang pasti berjualan kue itu halal,” tegas mbak Eni.

Membantu Ekonomi Keluarga

Menurut perempuan asal Slawi, Jawa Tengah ini, niat awal dia berjualan kue karena ingin meningkatkan ekonomi keluarga. Sebelumnya, sebagaimaa kebanyakan orang-orang pendatang, mbak Eni bekerja sebagai buruh kontrak disalahsatu pabrik di Bekasi. Sedangkan suaminya hanyalah sebagai supir angkot.

Kebutuhan ekonomi terasa semakin berat takkala terjadi krisis ekonomi 1997. Pada tahun itupula mbak Eni terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di tempat ia berkerja.”setelah terkena PHK kehidupan keluarga saya semakin sulit. Penghasilan suami sebagai supir angkot tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga karena itulah saya bertekad untuk membantu kenomi keluarga dengan cara berjualan kue,” kenang mbak Eni.

Menurut mbak Eni hasil dari berjualan kue lumayan cukup untuk membantu ekonomi keluarga, bahkan dari hasil penjualan kue, mbak Eni bisa menyekolahkan putranya.”Tapi sayang putra saya hanya mampu sekolah hingga tamat SMP karena biaya sekolah mahal, apalagi sebelum putra saya lulus SMP, bapaknya sudah meninggal terlebih dahulu,” ungkap mbka Eni.

Semenjak suaminya meninggal dunia, mbak Eni menjadi orang tua single bagi kedua anaknya. Mbak Eni selain sebagai seorang Ibu yang merawat anaknya dia juag berposisi sebagai seorang Ayah yang mencari nafkah bagi kedua anaknya. Kedua peran ini dijalani mbak Eni dengan ikhlas dan sabar.”saya yakin kalau kita ikhlas merawat anak yatim pasti kehidupan kita berkah,” kata mbak Eni.

Menurut mbak Eni, saat ini anak keduanya baru kelas satu sekolah dasar, sedangkan anak keduanya sudah dua tahun lulus SMP dan tidak melanjutkan ke SMA tapi belum dapat pekerjaan.”ingin sebenarnya menyekolahkan anak-anak sampai tinggi tapi tidak ada biaya. Bagi saya anak-anak sudah bisa baca semua saya sudah bersyukur,” ungkap mbak Eni.

Ketika ditanya mengapa sampai saat ini masih berjualan kue keliling, menurut mbak Eni karena berjualan kue keliling tidak memerlukan modal besar hanya modal kemauan, kepercayaan dan tenaga. ”kue-kue yang saya jual tiap hari itu semuanya adalah bikinan orang yang dititipkan ke saya untuk dijual, jadi saya hanya modal tenaga untuk berekeliling dan kepercayaan dari yang menitipkan kue,” jelas mbak Eni.

Menurut mbak Eni, dirinya memang ada keinginan untuk menjual kue hasil buatan sendiri, tapi apa dikata modalnya tidak ada. Dia juga sudah berusaha untuk mencari pinjaman modal dari tentangga tapi tidak dapat.”Memang susah cari modal kalau tidak punya jaminan, jangankan pinjam ke bank ke tetangga saja kalau tidak ada jaminan susahnya minta ampun,” ungkap mbak Eni.

Sedangkan mengenai bantuan dari pemerintah, menurut mbak Eni dia tidak tahu sama sekali kalau pemerintah menyalurkan bantuan berupa kredit lunak atau pinjaman bergulir buat usaha atau apa yang namanya kredit usaha rakyat. Setahu mbak Eni pemerintah tugasnya hanya bikin KTP di kelurahan.

Ternyata masih ada orang seperti mbak Eni degan kegigihannya berusaha memberdayakan keluarganya seorang diri tanpa ada bantuan dari tetangga atau pemerintah. Mbak Eni pantas disejajarkan dengan perempuan-perempuan dengan kegigihanya merubah dunia dengan harapan hari esok pasti lebih baik dari hari ini. (DEN)