Jakarta, 1 Februari 2008
Pagi pukul 06.00 tanggal 1 Februari 2008 cuaca langit memang sudah tidak bersahabat, awan hujan masih menyelimuti seluruh wilayah Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya. Meskipun malah hari sebelumnya hujan sudah turun cukup lama dan deras, namun awab hujan masih tetap menggantung, seakan tidak pernah puas untuk menyirami bumi. Awan hitam tersebut seakan-akan hendak menyelimuti Jakarta dan membawa warga Jakarta untuk menarik selimut dan bermimpin tentang Jakarta yang tidak ada banjir, Jakarta yang tidak ada macet, Jakarta yang hijau, dan Jakarta yang tidak ada pengemis, serta gelandangan.
Pukul 06.30 hujan mulai mengguyur tanah Betawi. Hujan yang menurut Badan Meteoroligi dan Geofisiki (BMG) bercurah sekitar 150-300 mm atau dua kali lebih besar dibanding pada banjir 2007 lalu. Hujan terus mengguyur kawasan Jakarta pusat dan sekitarnya seakan tidak pernah bosan dan tidak pernah habis airnya. Benar saja, sekiatar pukul 10.45 air dufah mulai naik untuk menggenangi Jalan Merdeka Barat, Selatan dan Utara. tidak beberapa lama kemudian air sudah mulai memasuki kantor kementeriaan Koordinator Kesra, sontak saja para pegawai panik dibuatnya. Untungnya Kantor Menkokesra yang terkena banjir hanya sisi belakang, taman dan halaman parkir. Namun tetap saja banjir membuat para pegawai panik karena itu adalah banjir untuk pertama kalinya yang terjadi di kantor menkokesra maupun di jalan Merdeka Barat.
Banjir juga tidak lupa mengepung Istana Merdeka dan Monumen Nasional (Monas).
Karena banjir, banyak kendaraan yang mogok lalulintas menjadi kacau, dan polisi harus bekerja ekstra keras dalam mengatur lalulintas. Banjir juga memaksa trotoar menjadi tempat yang favorit untuk berlabuhnya sepeda motor bahkan menjadi track baru. Banjir waktu itu seakan tidak mengenal orang. Banjir memakan korban mobil mercedes dengan plat nomor RI 1 untuk diderak dan memaksa penumpangnya yang tak lain adalah presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menaikan kendaraan SUV yang ditumpangai oleh para pengawalnya.
Hujan yang terjadi di Jakarta mengakibatkan genangan air di beberapa jalan di Jakarta, seperti di Jalan Yos Sudarso–Tanjung Priok sekitar 40 – 50 Cm. Kendaraan roda dua tidak bisa melintasi jalan tersebut dan dialihkan melalui jalan tol. Jalan I Gusti Ngurahrai, j. Gatot Soebroto,
Kendaraan Motor yang mau ke Tanjung Priok melalui Pintu Tol Gerbang Podomoro dan dikeluarkan melalui pintu keluar Plumpang, untuk arus sebaliknya kendaraan motor yang menuju ke Cawang di Jalan Ahmad Yani menjelang DI Panjaitan ada genangan air sekitar 40 – 50 Cm. Kendaraan roda dua tidak bisa melintasi jalan tersebut akibatnya kendaraan roda dua dialihkan melalui Pintu Tol Cempaka Putih dan keluar di pintu keluar Jatinegara

Seperti diinformasikan Traffic Management Centre (TMC) Polda Metro Jaya, untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan lalulintas petugas ditempatkan di sepanjang jalan tol yang dilintasi kendaraan motor tersebut.
Sejumlah ruas jalan saat ini tergenang air hujan dan memicu kemacetan parah. Genangan air itu muncul setelah Jakarta diguyur hujan selama 2,5 jam antara pukul 22.30 – pukul 01.00. Genangan terlihat, antara lain di Jalan Raya Bogor, depan Ditbekang TNI, Kramat Jati, Jakarta Timur. Berbagai jenis sayuran yang dijual di tepi jalan tergenang air membuat pedagang kewalahan.
Sekitar pukul 03.00 WIB, air di sepanjang jalan itu berangsur-angsur surut. Namun genangan air masih terlihat di jalan arteri MT Haryono, terutama di ruas Kuningan – Tebet, tidak jauh dari gerbang tol Tebet. Genangan setinggi antara 40-60 sentimeter (cm) terlihat di sekitar kawasan Cempaka Putih, atau juga dikenal perempatan Coca Cola.
Misalnya, jalur lambat di sisi utara Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di Pedongkelan wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara sulit dilalui kendaraan kecil. Genangan air juga terlihat di Jalan Ahmad Yani, terutama sejak pesimpangan Cempaka Putih hingga gerbang tol Cempaka Putih arah ke Cawang.
Genangan air paling tinggi terlihat di Jalan R Suprapto, tepat di depan ITC Cempaka Mas. Air setinggi hampir 60 cm itu menggenangi jalur lambat bagian timur jalan hingga sejauh kurang lebih 500 meter, sejak persimpangan Coca Cola hingga menjelang Jalan Cempaka Putih Tengah II. Permukiman di sekitar ini juga tergenang.
Hingga pukul 07.00, genangan air di kawasan itu belum surut dan memicu kemacetan
panjang di empat ruas jalan yakni dari dan ke Pulo Gadung, Senen, Tanjung Priok dan Cawang. Stagnasi di jalan arteri itu juga menyebabkan lalu lintas tol Cawang – Tanjung Priok macet, terutama di jalur keluar Cempaka Putih, Salemba dan Pulo Gadung.
Petugas Regu C Traffic Management Center Polda Metro Jaya, Brigadir Satu Haryadi menambahkan, genangan air juga terlihat di Jalan Lodan Raya, depan Hotel Alexis setinggi 15cm. Di kawasan Teluk Gong 30 cm, sekitar RS Atmajaya Pluit 10 cm, Mangga Dua Square 30 cm, terowongan Semanggi Jalan Sudirman 10-20 cm, dan MT Haryono 15 cm, sedangan di depan RS Duren Sawit, Jakarta Timur 20-30 cm. Semuanya menyebabkan kemacetan.
Ditulis oleh denmasdeni